Namun Chavez yang baru saja menjalani pengangkatan tumor di panggulnya pada Juni lalu menekankan bahwa dia tidak membuat tuduhan, hanya berpikir keras saja.
"Ini tidak akan aneh jika mereka telah mengembangkan teknologi untuk menginduksi kanker dan tak ada yang tahu tentang hal itu sampai sekarang ... Aku tidak tahu. Aku hanya berefleksi, "katanya dalam pidato televisi di hadapan tentara di sebuah pangkalan militer. Demikian diberitakan Reuters, Rabu (28/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Chavez dan Fernandez, Presiden Paraguay Fernando Lugo, Presiden Brasil Dilma Rousseff dan mantan presiden Brasil Inacio Lula da Silva, baru-baru ini juga didiagnosa mengidap kanker. Semuanya adalah pemimpin garis kiri.
Chavez mengatakan para pemimpin negara tetangganya harus berhati-hati, termasuk sekutu dekatnya, Presiden Bolivia Evo Morales. "Kita harus merawat Evo. Berhati-hatilah Evo!" katanya.
Chavez yang berusia 57 tahun adalah kritikus paling keras di Amerika Latin terhadap kebijakan luar negeri AS, bersama dengan mantan pemimpin Fidel Castro Kuba. Dia menyebut AS sebagai "Kekaisaran Yankee."
Chavez juga menyebut Fidel Castro dalam pidatonya tersebut. "Fidel selalu mengatakan padaku, Chavez berhati-hatilah. Orang-orang ini telah mengembangkan teknologi. Anda sangat ceroboh. Berhati-hatilah pada apa yang Anda makan, apa yang mereka berikan Anda untuk dimakan ... sebuah jarum kecil dan mereka menyuntik Anda dengan saya tidak tahu apa," katanya.
Pada Rabu kemarin, media melansir sakit kanker tiroid yang diderita Presiden Argentina Cristina Fernandez. Untungnya, sel kanker yang diderita Cristina tidak menyebar. Dirinya harus menjalani operasi pada 4 Januari 2012. Setelah itu Cristina akan mengambil cuti hingga 24 Januari 2012. Selama kurun waktu itu, kepemimpinan Cristina akan digantikan oleh Wakil Presiden Amado Boudou.
Christina memimpin Argentina untuk periode kedua. Dia merupakan janda dari presiden sebelumnya. Christana sering memakai gaun hitam untuk menyatakan rasa berkabung atas kematian suaminya. Dia membangun citra dirinya sebagai presiden berbaju gelap yang ringkih namun otoriter.
(nrl/vit)











































