Song menamai lukisannya ini 'Dear Leader' alias 'Pemimpin Tercinta'. Song membuat lukisan ini untuk menyindir kepemimpinan Kim yang membuat negaranya terisolasi, menderita kelaparan dan kehancuran ekonomi.
"Pada hari aku menyelesaikan lukisanku, dia meninggal," kata Song tentang lukisannya dan kematian Kim pada 17 Desember 2011, seperti dilansir Reuters, Senin (26/12/2011).
"Dia bukan makhluk abadi, tetapi sama dengan bulu-bulu burung merpati itu. Saya pikir akan lebih baik jika ia sudah membuat Korea Utara keluar dari kelaparan sebelum ia meninggal," imbuh Song.
Song, seperti kebanyakan warga Korea Utara lainnya, awalnya memuja Kim dan ayahnya, Kim Il Sung. Tapi kelaparan akibat bencana banjir pada akhir tahun 1990-an, membalikkan semuanya.
Pada bulan Agustus 2000, Song dan ayahnya karena kelaparan, nekat menjadi imigran gelap dengan mencoba berenang menyeberangi Sungai Tumen ke China dengan harapan mendapatkan makanan dari kerabat mereka di sana. Namun ayahnya hanyut tersapu ombak dan Song ditangkap, kemudian dikirim ke sebuah camp untuk kerja paksa.
Di camp tersebut ada sekitar 200 ribu orang dipaksa bekerja dengan sedikit makanan dan di bawah ancaman eksekusi. Jari di tangan kanannya menjadi terinfeksi sehingga membuatnya hampir mati yang membuat Song dibebaskan dari camp kerja paksa itu.
Pada 2002, Song bertekad untuk mencoba melarikan diri lagi. Pelariannya tidak sia-sia karena ia berhasil sampai di Seoul, Korea Selatan. Setelah ibunya meninggal pada tahun 2005, ia membawa adiknya dan keluarganya keluar dari Korut pada tahun 2007 dengan bantuan perantara di China.
(nwk/nwk)











































