Seperti diberitakan New York Times, Jumat (23/12/2011), misil-misil tersebut seperti rudal pencari panas dan rudal antipesawat dijarah pasukan pemberontak saat menyerbu masuk depot gudang senjata selama pertempuran melawan pasukan Muammar Khadafi.
Para pejabat keamanan khawatir pasukan pemberontak akan menggunakan rudal tersebut untuk mengancam pesawat-pesawat sipil. Meski tidak disebutkan secara rinci, namun pada intinya AS memberikan dukungan teknis dan juga uang kepada pemerintah Libya untuk membeli kembali rudal-rudal tersebut sehingga dapat disimpan di gudang pemerintah atau dihancurkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rudal tersebut mempunyai harga yang tinggi di pasar gelap. Meski tidak terlalu berbahaya bagi pesawat tempur modern tapi memiliki ancaman bagi pesawat sipil. AS berkomitmen menganggarkan US$ 40 juta untuk mengamankan stok senjata Libya, meski belum diketahui berapa harga yang akan dibayarkan untuk setiap rudal.
Pemerintah AS memperkirakan selama pemerintahan Khadafi, Libya telah mengimpor 20.000 rudal. Berapa yang hilang diperkirakan sebagian kecil dari 20.000 tersebut, meski belum ada estimasi akurat tentang jumlah rudal yang hilang.
Sejauh ini, tim survei menghitung ada sekitar 5.000 rudal, termasuk rudal yang telah hancur dan ditembakkan, dan juga diperkirakan yang dimiliki oleh kelompok milisi dan yang dinonaktifkan oleh tim survei itu.
(fiq/nrl)











































