Demikian seperti disampaikan oleh pihak Kepolisian setempat dan diberitakan oleh Reuters, Kamis (22/12/2011).
Jumlah korban tewas ini menanjak drastis dari laporan sebelumnya, yakni sebanyak 40 orang. Sebagian besar korban tewas diduga merupakan kaum Syiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terhadap serangkaian ledakan ini, Perdana Menteri Irak, Nuri al-Maliki, menyebutnya sebagai serangan yang bermotif politik dari lawan-lawannya. Terlebih, ledakan ini terjadi di tengah-tengah memanasnya krisis sektarian antara kaum Sunni dan Syiah.
"Waktu dan tempat yang dipilih untuk melancarkan aksi ini membuktikan semuanya... bahwa sasarannya didasarkan pada motif politik," tegas Nuri al-Maliki yang memeluk Syiah.
Serangkaian ledakan ini adalah kali pertama yang terjadi di ibukota Irak sejak pecahnya perseteruan antara pemerintah yang dipimpin kelompok Syiah dengan lawan politiknya dari kelompok Sunni. Dan juga pertama kalinya terjadi pasca berakhirnya tugas pasukan militer Amerika Serikat (AS) di negeri seribu satu malam itu.
Diduga, ledakan ini merupakan 'aksi' balasan bagi tindakan PM Nuri al-Maliki yang berusaha menyingkirkan lawan-lawan politiknya yang memeluk Sunni. Seperti diketahui, pemerintahan PM al-Maliki telah menerbitkan surat penangkapan atas Wakil Presiden Irak, Tareq al-Hashemi, yang memeluk Sunni, atas tuduhan terlibat pembunuhan dan terorisme. Selain itu, al-Maliki juga menyerukan pemecatan Wakil Perdana Menteri, Saleh al-Mutlak, yang juga memeluk Sunni.
(nvc/vit)










































