Sang remaja yang berinisial JLE ini masih berusia 15 tahun saat pembunuhan tersebut terjadi. Saat itu, JLE berniat merampok telepon genggam milik seorang pelajar asal India bernama Nitin Garg di Melbourne. Usai merampok, JLE kemudian malah menikam Garg hingga tewas.
Dalam vonisnya, Hakim Mahkamah Agung Victoria, Paul Coghlan, menilai pembunuhan tersebut bersifat spontan, bukan didasarkan atas kekerasan rasial. Sebab kasus ini sempat menarik perhatian warga India dan disebut-sebut didorong oleh isu rasial. Bahkan ribuan mahasiswa India sempat memboikot Australia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun ini adalah kejahatan serius, tapi ini dilakukan secara spontan," tegas Hakim Coghlan seperti diberitakan media setempat dan dilansir oleh Reuters, Kamis (22/12/2011).
Menurut Coghlan, JLE sebenarnya tidak berniat membunuh Garg. Namun, JLE mengaku merasa bersalah telah membunuh Garg.
Selain menimbulkan ketegangan diplomatik kedua negara, kasus ini juga memperburuk penghasilan Australia dari sektor pendidikan internasional. Di mana Australia diketahui mendapatkan pendapatan sebesar Aus$ 18 miliar (Rp 165,2 triliun) pada tahun 2010 dari sektor pendidikan internasional, jumlah ini di bawah pendapatan dari ekspor batubara dan bijih besi. Tahun lalu, jumlah pendapatan dari pendidikan internasional menurun sebesar 9,4 persen.
(nvc/vit)











































