Tentara AS di Afghanistan Diperpanjang Melebihi Tahun 2014

Tentara AS di Afghanistan Diperpanjang Melebihi Tahun 2014

- detikNews
Kamis, 22 Des 2011 14:45 WIB
Tentara AS di Afghanistan Diperpanjang Melebihi Tahun 2014
Washington - Komandan pasukan Amerika Serikat (AS) di Afghanistan menyatakan keberadaan tentara militer AS di Afghanistan diperpanjang melebihi tahun 2014. Hal ini berarti rencana penarikan tentara AS dari Afghanistan, yang tadinya dijadwalkan pada tahun 2014, akan diundur.

Menurut Jenderal John Allen, proses negosiasi dengan pejabat pemerintahan Afghanistan soal kemitraan strategis sudah sampai pada pembahasan bentuk dan berapa banyak tentara yang diterjunkan ke Afghanistan pasca tahun 2014. Bahkan, Presiden Afghanistan Hamid Karzai telah menyampaikan keinginannya untuk melakukan pembicaraan dengan AS soal tentara pasca tahun 2014.

"Kemungkinan kita akan melihat sejumlah penasihat militer, pelatih, hingga ahli intelijen di sini hingga melebihi tahun 2014," ujar Jenderal John Allen kepada New York Times, Rabu (21/12) dan dilansir kantor berita AFP, Kamis (22/12/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jenderal John Allen yang memimpin pasukan AS di Afghanistan selama 10 tahun ini menyebut, kemungkinan keberadaan tentara AS di Afghanistan melebihi tahun 2014, sangat besar.

Pemerintahan Presiden Barack Obama sebelumnya berencana menarik pasukan AS di Afghanistan pada akhir tahun 2014. Namun ternyata rencana tersebut berubah mengingat kondisi Afghanistan yang dinilai belum stabil. Duta Besar AS untuk Afghanistan, Ryan Crocker mengatakan, pemerintah AS bersedia untuk mempertahankan militernya jika diminta oleh pemerintah Afghanistan.

Di sisi lain, saat ini AS tengah melakukan penarikan bertahap atas militernya di Afghanistan. Tahun ini, sebanyak 10 ribu tentara AS telah ditarik kembali ke kampung halamannya. Masih tersisa sekitar 91 ribu tentara AS yang rencananya akan dipulangkan tahun depan.

Namun, Presiden Karzai mengakui bahwa pihaknya tengah melakukan negosiasi dengan AS soal kemungkinan perpanjangan keberadaan pihak AS, termasuk tentaranya, di Afghanistan. Hal ini diduga terkait pernyataan sejumlah mantan pejabat Afghanistan dan pengamat lainnya yang memperingatkan, bahwa Afghanistan bisa dilanda perang sipil, baik dengan India maupun Pakistan, jika tentara AS dan sekutunya meninggalkan Afghanistan pada akhir tahun 2014.

Dan hal ini sudah terjadi di Irak, di mana kepergian tentara AS menyisakan konflik sektarian antara kaum Sunni dan Syiah. Bahkan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki, yang memeluk Syiah, menerbitkan surat penangkapan atas Wakil Presiden Irak Tareq al-Hashemi, yang memeluk Sunni, atas tuduhan terlibat pembunuhan dan terorisme.

(nvc/nrl)


Berita Terkait