Sehari Sebelum Tim Pemantau Tiba, 160 Warga Suriah Tewas

Sehari Sebelum Tim Pemantau Tiba, 160 Warga Suriah Tewas

- detikNews
Kamis, 22 Des 2011 08:36 WIB
 Sehari Sebelum Tim Pemantau Tiba, 160 Warga Suriah Tewas
Damaskus - Aktivis HAM Suriah dan pihak oposisi menyebut pasukan pro Presiden Bashar al-Assad telah membunuh sekitar 160 orang tentara disertir, masyarakat dan aktivis pemerintah dalam 3 hari terakhir di wilayah barat laut Suriah. Pembunuhan ini terjadi sehari sebelum pemantau independen Liga Arab masuk ke negara tersebut.

Seperti diberitakan New York Times, Kamis (22/12/2011), laporan itu menyebutkkan pembunuhan terjadi di dekat kota Idlib serta dekat perbatasan Turki dan Suriah. Pembunuhan terjadi sehari sebelum tim pemantau Liga Arab datang ke negara tersebut.

Beberapa aktivis mengatakan pasukan militer Presiden Bashar al-Assad sedang gencar mengintensifkan tindakan kekerasan. Mereka juga melakukan intimidasi karena dalam beberapa hari mendatang tim pemantau akan datang dan mencegah tindakan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya khawatir pasukan keamanan akan berusaha menghancurkan ini sebelum tim pemantau masuk," ujar anggota Dewan Nasional Suriah, Murhaf Jouejati.

Pemerintah Suriah mencurigai pemberontakan anti-Assad merupakan dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris dan preman yang didukung oleh pihak Barat.

Kantor berita resmi Suriah mengatakan pihak berwenang Suriah di kota-kota seperti Idlib, Homs dan Daraa telah menyerang sarang kelompok teroris bersenjata. Mereka pun menangkap puluhan orang yang akan melakukan kejahatan pembunuhan, penyerangan, dan sabotase.

Situs berita itu menuliskan sejumlah teroris tewas dan lainnya luka-luka. Aparat menyita senjata dalam jumlah besar, amunisi, bahan peledak dan kacamata malam, termasuk alat komunikasi modern.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melansir data sudah hampir 5.000 orang tewas akibat bentrokan sejak aksi protes terhadap pemerintahan Assad bergulir di Deraa sejak 9 bulan lalu. Kabarnya aksi protes ini terinspirasi dari pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di beberapa negara Arab.

(fiq/vta)


Berita Terkait