Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Nasional Filipina menyebutkan korban tewas akibat badai Washi mencapai 976 jiwa dan 46 orang lainnya belum ditemukan. Sebagian besar korban berasal dari kota Cagayan de Oro dan Iligan, di mana sekitar 275 ribu orang dilaporkan kehilangan rumahnya yang tersapu banjir. Mereka kini tinggal di sejumlah lokasi pengungsian.
Sebagian pengungsi ini, mulai kembali ke desa masing-masing selang 5 hari pasca kejadian. Mereka berkomitmen untuk menata kembali kehidupan mereka dan membangun kembali rumah mereka yang hancur. Tayangan televisi setempat menunjukkan aktivitas warga yang mulai bergeliat, ada yang sibuk menyekop genangan lumpur, ada yang mencuci furnitur dan peralatan rumah tangga, dan ada yang tengah menjemur baju-baju yang basah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Marina memutuskan untuk kembali ke rumahnya karena menurutnya lokasi pengungsian terlalu ramai bagi keluarganya. Beberapa korban selamat lainnya bahkan tidur di trotoar karena sejumlah lokasi pengungsian penuh.
"Kami kembali ke desa kami, tapi, kami akan menyambut baik bantuan pemerintah jika mereka mau memberi kami sebidang tanah untuk membangun rumah baru," ucap korban selamat lainnya, Nestor dela Cruz, yang meminta pemerintah merelokasi keluarga dan tetangganya ke tempat yang lebih aman.
Menanggapi hal ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Filipina, Benito Ramos mengakui pemerintah membutuhkan waktu untuk merelokasi korban selamat. Menurutnya, saat ini pemerintah masih fokus pada pencarian korban dan juga mencari lokasi yang aman bagi warga.
Sementara itu, Sekretaris Negara Filipina, Jesse Robredo menyatakan, Presiden Benigno Aquino telah memberikan dana kepada pemerintah setempat sebesar 50 juta Peso atau sekitar Rp 10,3 miliar. Dana tersebut ditujukan untuk kepentingan pembangunan rumah-rumah baru di dua kota, Cagayan de Oro dan Iligan, yang terkena dampak paling parah.
(nvc/anw)










































