Insiden ini terjadi pada Minggu (18/12) waktu setempat di sebuah desa terpencil, Karkana, sebelah barat daya Provinsi Baluchistan. Seorang wanita bernama Salma Bibi (17) mengungkapkan perbuatan keji suaminya. Menurutnya, sang suami yang bernama Ghulam Qadir (22) tiba-tiba memukulnya dan mengikat tangan dan kaki Salma dengan tali. Kemudian Ghulam berusaha melukai wajah Salma dengan pisau cukur hingga mengakibatkan hidung dan bibir Salma terpotong.
"Dia menampar wajah saya berulang-ulang dan kemudian dia masuk ke kamar dan keluar lagi sambil membawa sebuah pisau cukur tajam, buatan lokal. Saya pun berteriak karena panik. Tapi dia mengikat tangan dan kaki saya dengan tali dan kemudian memotong hidung dan bibir saya," terang Salma dalam bahasa Baluchi dan diterjemahkan oleh pamannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai insiden naas tersebut, Salma sempat berusaha bunuh diri jika polisi tidak memproses suaminya ke jalur hukum. Sebab, banyak kasus kekerasan terhadap perempuan di Pakistan yang dibiarkan begitu saja. Namun Salma berusaha memperjuangkan keadilan bagi dirinya.
"Saya menginginkan keadilan dan jika keadilan tidak diberikan kepada saya, saya akan mengorbankan diri saya di depan Mahkamah Agung. Saya belum bisa duduk tenang sampai suami saya dibawa ke pengadilan dan mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatan yang dia lakukan," ucap Salma yang baru setahun menikah dengan Ghulam.
Menanggapi hal tersebut, otoritas setempat pun bertekad untuk mencari dan menahan Ghulam yang kini masih buron. Menurutnya, motif Ghulam melakukan aksi keji ini karena Salma lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya.
"Mereka sering bertengkar karena si perempuan sering menghabiskan waktu dengan orangtuanya," ucap seorang pejabat distrik Musa Khel, Nadir Khan. Terhadap kasus ini, Perdana Menteri Pakistan Yousuf Raza Gilani telah mengintruksikan kepada aparat penegak hukum untuk mengusutnya.
Seperti diketahui, kasus kekerasan terhadap perempuan di Pakistan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, seringkali dibiarkan tanpa diproses ke jalur hukum. Bahkan tidak sedikit perempuan yang menjadi korban kekerasan justru dianggap membawa aib bagi keluarga dan dibunuh tanpa alasan.
Direktur Human Rights Watch Pakistan, Ali Dayan Hasan, menyebut kekerasan dalam rumah tangga adalah masalah endemik di Pakistan. Namun dia memuji parlemen Pakistan saat ini yang berani meloloskan undang-undang yang melindungi hak-hak perempuan.
(nvc/ita)











































