Harapan tersebut diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Hillary Clinton. AS berharap agar pengganti Kim Jong-il, yakni Kim Jong Eun lebih mengedepankan perdamaian dalam kepemimpinannya.
"Harapan kami bahwa pemimpin baru Republik Demokratik Rakyat Korea akan membimbing bangsanya menuju jalan perdamaian dengan menghormati komitmen Korut, meningkatkan hubungan baik dengan negara tetangga, dan menghormati hak setiap rakyat," ujar Hillary Clinton dalam pernyataannya pada Senin (19/12) dan dilansir oleh Reuters, Selasa (20/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Amerika Serikat siap membantu rakyat Korut dan mengajak pemimpin yang baru untuk bekerjasama dengan dunia internasional guna mendorong terciptanya era baru yang penuh perdamaian, kemakmuran dan keamanan bagi Semenanjung Korea," tutur Hillary.
Pemimpin Korut, Kim Jong-il meninggal dunia pada usia 69 tahun karena serangan jantung pada Sabtu (17/12) lalu. Sepeninggal Jong-il, tampuk kepemimpinan Korut diserahkan kepada anak bungsunya, Kim Jong Eun. Muncul kekhawatiran terhadap karakter kepemimpinan Jong Eun yang tidak begitu dikenal terhadap negara komunis yang memiliki program nuklir tersebut.
Usai kematian Kim Jong-il diumumkan oleh stasiun televisi nasional Korut, Senin (19/12) pagi, tiga negara sekutu yakni AS, Jepang dan Korsel langsung berkoordinasi secara intens. Mereka juga saling bertukar informasi intelijen mengenai perkembangan yang terjadi di Korut sepeninggal Kim Jong-il. Bahkan ketiga negara tersebut akan segera menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) untuk membahas Korut.
(nvc/ita)











































