Iring-iringan 100 truk lapis baja MRAP (Mine Resistant Ambush Protected) yang membawa sekitar 500 tentara AS melintasi wilayah padang pasir di Irak selatan sepanjang Sabtu (17/12) malam hingga Minggu (18/12) pagi, menuju ke perbatasan Kuwait. Demikian seperti dilansir Reuters, Minggu (18/12/2011).
"Ini baik untuk melihat hal ini (kepulangan) semakin dekat. Saya di sini ketika semua dimulai. Saat ini, saya melihat banyak perubahan yang baik, banyak kemajuan, dan banyak juga hal buruk yang masih terjadi," ujar seorang tentara Sersan Christian Schultz sebelum meninggalkan Contingency Operating Base (COB) Adder, sekitar 300 kilometer di sebelah selatan Baghdad.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya senang bisa pulang. Saya menghabiskan 31 bulan di negara ini. Tampaknya sekarang saya bisa menjalani hidup saya, meskipun saya tahu mungkin saja saya akan dikirim ke Afghanistan pada 2013. Setelah perang ini berakhir, saya ingin tahu hal apa yang akan saya lakukan," ucap seorang tentara lainnya, Sersan Steven Schirmer yang bertugas di Irak sejak tahun 2007 silam.
Bagi Obama, penarikan tentara AS ini menjadi bukti bahwa Obama memenuhi janjinya saat pemilu untuk memulangkan tentara AS dari wilayah-wilayah konflik. Sedangkan bagi warga Irak sendiri, kepulangan tentara AS sedikit menimbulkan kekhawatiran akan keamanan. Namun, kekhawatiran tersebut tidak lebih daripada masalah pekerjaan dan persoalan listrik yang langka setiap harinya.
"Kami tidak memikirkan Amerika... Kami memikirkan tentang listrik, pekerjaan, minyak kami, masalah-masalah keseharian kami. Mereka meninggalkan kekacauan," ujar seorang pegawai negeri di Baghdad, Abbas Jaber.
Berdasarkan data Kementerian Pertahanan AS, sebanyak 4.408 prajurit AS tewas di Irak sejak invasi dimulai pada Maret 2003. Sepanjang 9 tahun invasi itu, dilaporkan sekitar 10 ribu warga Irak menjadi korban tewas.
(nvc/nwk)










































