Meski Bunuh Sang Ayah, Shamin Dinyatakan Tidak Bersalah

Meski Bunuh Sang Ayah, Shamin Dinyatakan Tidak Bersalah

- detikNews
Kamis, 15 Des 2011 12:14 WIB
Meski Bunuh Sang Ayah, Shamin Dinyatakan Tidak Bersalah
Sydney - Seorang wanita dengan beraninya mengambil sepucuk senjata api dari sebuah klub tembak di Sydney. Setelah berhasil melakukan aksi nekatnya, perempuan ini melakukan intrik agar bisa mengelabui ayahnya untuk pulang ke rumah. Tragis, setibanya sang ayah di rumah, tanpa tedeng aling-aling dia melepaskan tembakan ke arah ayahnya yang berumur 70 tahun hingga tewas.

Meski perbuatan wanita 44 tahun ini dinilai cukup keji, namun hakim Peter Hall dari Mahkamah Agung di New South Wales menyatakan tidak bersalah. Alasannya, wanita itu dianggap memiliki gangguan kejiwaan.

Kejadian ini bermula ketika seorang anggota dari klub tembak tersebut melaporkan kehilangan senjata pada 22 Agustus 2010 lalu. Tak lama berselang, seorang wanita bernama Shamin Fernando menghubungi polisi untuk mengakui tindakan yang baru saja ia lakukan, yaitu membunuh ayahnya, Vincent Fernando.

Shamin melepaskan tembakan ke arah ayahnya menggunakan pistol jenis Ruger. Kejadian ini terjadi di kediaman mereka yang terletak di kawasan Glebe, Sydney. Tanpa rasa bersalah pula, dengan santai Shamin mengatakan kepada polisi bahwa ia memang ingin menembaknya.

Saat ditanya alasannya, mengapa berpura-pura mengundang ayahnya pulang untuk memperbaiki komputer, dia menjawab, "Jika aku tidak meminta datang dengan cara seperti itu sehingga bisa menembaknya. Aku yakin dia tidak akan datang," cerita Fernando.

Fernando juga sempat mendaftarkan diri masuk dalam klub tembak tersebut. Bahkan saat mengisi formulir klub itu, sempat ditanyakan apakah dia mempunyai penyakit kelainan jiwa untuk mencegah penggunaan senjata terhadap aksi ilegal.

"Terdakwa mengambil pistol jenis Ruger berkaliber 22 milik klub. Ruger itu jenis pistol semi-otomatis," kata hakim.

"Suatu hari setelah ia menggunakan untuk latihan menembak di lapangan, pistol itu kemudian ditaruhnya di tas tangan yang ia pakai," imbuh hakim.

Namun, setelah kepergian Shamin dari lapangan tembak itu, seorang anggota klub yang memiliki pangkat perwira sadar bahwa pistol miliknya telah hilang. Dia mencoba meminta pengurus klub untuk menghubungi Shamin, namun perempuan itu tidak menjawab.

Shamin, sehari-harinya bekerja paruh waktu di sebuah stasiun radio komunitas. Ternyata Shamin memang memiliki riwayat penyakit skizofrenia paranoid kronis yang membuatnya harus dirawat selama beberapa tahun di rumah sakit.

Oleh karena itu, hakim memerintahkan Shamin sementara ini menjalani pemeriksaan lebih lanjut di sebuah rumah sakit forensik, sampai hakim merilis proses hukum terhadap wanita itu.

(lia/nvt)


Berita Terkait