Kedutaan Besar AS di Mauritius, yang merupakan negara tetangga Seychelles, menuturkan bahwa pesawat pengintai AS yang jatuh tersebut merupakan jenis MQ-9 Reaper. Pesawat pengintai ini tidak dilengkapi senjata apapun, karena hanya bertugas untuk mengintai aktivitas bajak laut di Samudera Hindia.
Seperti diberitakan Daily Mail, Rabu (14/12/2011), pesawat pengintai ini jatuh saat hendak mendarat di Bandara Internasional Seychelles pada Selasa (13/12) pagi waktu setempat. Beberapa saat setelah lepas landas, pesawat pengintai tersebut sempat mengalami masalah mesin. Kemudian pesawat tersebut kembali ke bandara dan hendak mendarat sesegera mungkin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengingat pesawat tersebut tanpa awak, jadi tidak ada korban jiwa akibat insiden ini. Penyebab insiden ini masih dalam penyelidikan Kedutaan AS dan otoritas setempat.
"Dapat dipastikan bahwa pesawat ini tidak dilengkapi senjata dan kegagalan pendaratan diduga terjadi karena masalah mesin," tuturnya.
Akibat insiden ini bandara pun sempat ditutup selama 10 menit dengan alasan tengah dilakukan 'tindakan pencegahan'. Bandara kemudian dibuka kembali dan dilaporkan insiden ini tidak berdampak pada aktivitas penerbangan lainnya. Militer AS dan otoritas penerbangan setempat tengah berkoordinasi untuk mengevakuasi puing-puing pesawat ini.
Pesawat MQ-9 Reaper merupakan pesawat pengintai tak berawak dan tak bersenjata milik Angkatan Udara AS. Pesawat pengintai yang ukurannya tergolong sedang ini dilengkapi dengan sistem sensor yang mampu memberikan real-time data. Sejumlah MQ-9 Reaper yang beroperasi di Seychelles diketahui dioperasikan untuk memantau aktivitas pembajakan kapal-kapal laut di sekitar Samudera Hindia.
Insiden jatuhnya pesawat pengintai AS ini mengingatkan pada pertikaian antara Iran dan AS terkait pesawat pengintai jenis RQ-170 Sentinel. Pesawat tersebut diklaim ditembak jatuh oleh militer Iran pada 4 Desember lalu saat melintas di atas Kota Kashmar, sekitar 225 kilometer dari perbatasan Afghanistan. Pada 6 Desember lalu, dua pejabat AS yang minta dirahasiakan identitasnya, mengakui bahwa pesawat pengintai itu tengah dalam misi badan intelijen AS, CIA.
Presiden AS Barack Obama untuk pertama kalinya telah mengakui bahwa pesawat mata-mata AS berada di tangan Iran. Obama pun meminta pemerintah Iran untuk menyerahkan kembali pesawat tak berawak itu. Namun Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad telah menolak permintaan Obama tersebut.
(nvc/nwk)











































