Seperti dikutip dari AFP, Rabu (14/12/2011), beberapa tahun sebelumnya polisi sempat menggerebek rumah Nordine untuk mencari tanaman ganja. Namun dalam penggerebakan itu polisi juga mendapati senjata ilegal.
Pada 2008, ia pun dijatuhi hukuman penjara hampir lima tahun lamanya atas kepemilikan senjata ilegal dan ganja. Tapi ia kemudian dibebaskan bersyarat pada Oktober 2010.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang wartawan, Nicolas Gilenne, yang ikut menyaksikan insiden itu mengatakan dirinya baru saja meninggalkan gedung pengadilan tempat ia meliput ketika penembakan brutal terjadi.
"Saya melihat seorang laki-laki mengangkat tangannya dan melemparkan sesuatu ke halte bus kemudian aku mendengar ledakan. Ia kemudian berbalik mengambil sesuatu dan menarik pin. Aku lalu berlari. Dia sendirian dan tampak sangat terkendali," cerita Nicolas.
"Seolah dia ingin menyakiti orang sebanyak mungkin. Saya mendengar empat ledakan dan tembakan selama sekitar 10 detik," ungkapnya.
Sebelumnya, aksi Nordine itu menewaskan tiga orang, dua remaja dan satu nenek sebelum akhirnya ia menembak dirinya sendiri. Aksi brutal yang terjadi saat jam makan siang itu membuat kocar-kacir para warga mengingat berada di pusat keramaian dan ada sebuah pasar Natal di dekatnya.
"Pusat kota benar-benar ditutup. Orang-orang berlindung di toko atau di gedung-gedung. Polisi juga sduah berjaga-jaga," kata seorang pegawai balai kota.
"Untungnya walikota telah menunda pembukaan pasar Natal karena cuaca buruk dan angin kencang. Kalau tidak, akan ada lebih banyak korban yang berjatuhan," imbuh karyawan tersebut.
(feb/did)











































