Seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun tewas ditempat. Sementara remaja lainnya berusia 17 tahun dan seorang nenek berusia 75 tahun akhirnya harus menghembuskan nafas setelah sempat di rumah sakit terdekat.
Seorang wartawan untuk sebuah koran lokal Liege, Gaspard Grosjean yang berada di alun-alun menjadi saksi setelah serangan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya melihat orang-orang benar-benar takut, orang-orang menangis, semua orang pegang ponsel mereka," tambahnya.
Pria bersenjata diketahui bernama Nordine Amrani (33). Nordine memulai serangan itu di dekat sebuah halte bus di Place Saint Lambert lalu ke area pusat belanja, berlanjut ke lokasi pasar tahunan Natal kota kemudian ke gedung pengadilan utama.
"Dia berakhir dengan menembak dirinya di kepala dengan pistol," kata saksi.
Motif dibalik aksi penembakan itu hingga kini belum jelas. Para pejabat setempat telah memanggil polisi dan memiliki keyakinan kalau Nordine memiliki senjata ilegal dan obat.
"Belum diketahui apakah ia sengaja bunuh diri atau senapan tersebut yang meledak. Dia tidak memiliki sejarah tindakan teroris," kata Jaksa Daniele Reynders dalam sebuah konferensi pers di Liege.
Seorang juru bicara untuk pusat krisis respon Belgia juga mengatakan tidak ada indikasi bahwa itu adalah serangan teroris.
Perdana Menteri Belgia Elio di RUPO menyatakan, serangan itu sangat mengerikan. Polisi telah menutup pusat Liege selama beberapa jam. Sebuah helikopter berputar-putar di atas lokasi.
Beberapa warga yang terluka berada di dekat sebuah museum yang akhirnya diselamatkan oleh paramedis. "Saya bisa mengatakan ada luka, tapi jangan bertanya kepada saya jika itu lima, tujuh, delapan atau sembilan. Aku tidak tahu," kata Direktur Museum Archeoforum, Jean-Jacques Messiaen.
Polisi dan pejabat lain hingga kini belum memiliki informasi lengkap kemungkinan motif atas serangan itu.
(did/feb)











































