Seperti dikutip dari AFP, Rabu (14/12/2011), seorang siswa menceritakan mereka secara teratur dipukuli di sekolah dengan rantai, pengait di kamar bawah tanah. Kepala federasi pendidikan menyebutnya sebagai 'penyiksaan sel'.
Polisi mengatakan, 21 remaja di antara mereka ditemukan selama serangan terjadi di kota terbesar di Pakistan, yang digunakan oleh Amerika Serikat untuk mengapalkan pasokan bagi tentara yang berperang di Afganistan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Madrasah di sana adalah sebuah sekolah yang memberikan pendidikan kepada anak dari keluarga tidak mampu. Pendirian madrasah tidak diatur ketat oleh pemerintah Pakistan.
Polisi mengatakan para siswa dirantai karena mereka pecandu narkoba yang ingin direhabilitasi, namun banyak detail informasi yang tidak jelas terkait hal itu.
Para keluarga miskin meyakini madrasah tersebut bisa menawarkan penyembuhan bagi pecandu narkoba dan pendidikan agama bagi anak laki-laki.
Salah satu siswa bernama Azmat Ulla (17) mengatakan ayahnya mengirimnya ke madrasah tersebut karena dianggap Azmat diguna-guna seseorang. "Ayah saya membawa saya ke beberapa penyembuh spiritual yang mengatakan bahwa aku adalah korban ilmu hitam," kata Ulla.
"Tiga bulan lalu saya masuk di sini. Ayah saya membayar 3.000 rupee (US$ 34) per bulan untuk madrasah sebagai biaya untuk membuat saya orang normal, tapi saya masih menderita meskipun saya terus dirantai dan dipukul dengan tongkat," tambah Ulla.
Lain hal dengan Mohammad Ashraf yang mengatakan ia telah mengirim anaknya, Mushtaq Ahmed, selama delapan tahun ke madrasah tersebut. Ia percaya anaknya akan menerima pendidikan agama.
"Aku tidak tahu pengelolaan madrasah akan memukulinya tanpa ampun. Aku tidak akan lagi menyekolahkan anak saya di madrasah ini," katanya.
Seorang polisi, Akram Khan mengatakan situasi di madrasah tersebut kompleks dan polisi tidak mempunyai gambaran yang jelas mengenai madrasah itu sampai semua bukti terkumpul.
"Keluarga dari para siswa dewasa mengatakan mereka telah mengirim anak-anaknya untuk rehabilitasi kecanduan narkoba, sementara siswa yang masih muda dikirim untuk mendalami agama," katanya.
Kepala federasi madrasah Pakistan, Hanif Jullandhri, mengatakan bahwa madrasah tersebut tidak terdaftar.
"Kami sangat mengutuk ini dan mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan yang seberat mungkin terhadap pemiliknya. Pemerintah harus menyelidiki bagaimana sel penyiksaan tersebut didirikan dan dioperasikan," katanya.
Setidaknya 15.148 sekolah pendidikan di Pakistan mendidik lebih dari 2 juta siswa. Namun para pejabat menduga masih ada ribuan lembaga pendidikan tak terdaftar juga didirikan untuk anak-anak dari keluarga miskin.
(feb/did)











































