"Dia mengatakan dia tidak menyesali perbuatannya. Ini tentu pesan yang sulit untuk disampaikan, tapi dia sangat jelas tentang hal itu... Dia percaya bahwa tindakannya itu perlu dilakukan," ujar pengacara Breivik, Geir Lippestad kepada stasiun televisi lokal, TV2 News Channel dan dilansir kantor berita AFP, Senin (12/12/2011).
"Dia pikir tindakannya itu kejam, tapi perlu," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil pemeriksaan psikiater menunjukkan bahwa Breivik menderita gangguan mental yang disebut dengan 'skizofrenia paranoid'. Merujuk pada hasil tersebut, kemungkinan besar Breivik tidak akan menjalani hukumannya di penjara, melainkan menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa.
Namun menurut salah seorang jaksa penuntut, Brevik sendiri merasa 'tersinggung' dengan hasil kesimpulan psikiater tersebut.
Pada 22 Juli lalu, Breivik mengakui dirinya berada di tengah-tengah perang salib melawan multikulturalisme dan invasi m ke Eropa. Untuk melawan hal itu, Breivik pun mengaku meledakkan sebuah bom mobil di luar sebuah gedung pemerintah di Oslo dan menewaskan 8 orang.
Setelah itu, Breivik pergi ke Pulau Utoeya, sekitar 40 km di sebelah barat laut Oslo dan menyamar sebagai seorang polisi. Di sana, dia mengaku selama 1,5 jam menembaki 69 orang yang mengikuti perkemahan musim panas.
Meskipun mengakui fakta-fakta yang diungkapkan di pengadilan, Breivik tetap menolak untuk mengaku bersalah atas tuduhan pembunuhan yang dijeratkan kepadanya.
(nvc/ita)










































