Habisi Keluarga Dokter, Pria AS Dihukum Mati

Habisi Keluarga Dokter, Pria AS Dihukum Mati

- detikNews
Sabtu, 10 Des 2011 12:37 WIB
Habisi Keluarga Dokter, Pria AS Dihukum Mati
Connecticut - Seorang pria dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Amerika Serikat atas pembunuhan sadis terhadap satu keluarga dokter ternama di Connecticut, AS. Dewan juri di New Haven, Connecticut hari ini menetapkan vonis tersebut setelah lima hari melakukan pertimbangan.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Sabtu (10/12/2011), Joshua Komisarjevsky sebelumnya telah dinyatakan bersalah dalam persidangan pada Oktober lalu. Pria berumur 31 tahun itu dinyatakan bersalah atas 17 dakwaan termasuk pembunuhan, penculikan dan kejahatan seksual dalam peristiwa mengerikan yang terjadi tahun 2007 lalu atas keluarga Dr William Petit.

Teman Komisarjevsky, Hayes, yang ikut serta dalam tindakan brutal tersebut telah lebih dulu divonis mati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat peristiwa berdarah pada Juli 2007 di Cheshire, New Haven, Connecticut tersebut, kedua pembunuh itu membobol rumah William Petit, dokter terkenal di daerah tersebut. William dipukul dengan tongkat bisbol dan diikat sementara istrinya, Jennifer Hawke-Petit diseret ke sebuah bank untuk menarik uang tunai sebesar US$ 15.000.

Hayes kemudian memperkosa Jennifer dan Komisarjevsky berbuat tak senonoh terhadap putri pasangan tersebut, Michaela yang berumur 11 tahun.

Setelah itu Hayes mencekik Jennifer usai memperkosanya. Sementara Michaela dan kakak perempuannya yang berumur 17 tahun, Hayley diikat di tempat tidur mereka. Kedua gadis itu kemudian disiram bensin dan dibiarkan mati terbakar sementara kedua pembunuh membakar rumah tersebut dan kabur.

Dr William berhasil menyelamatkan diri dan pergi ke rumah tetangganya dalam kondisi masih terikat. Dokter tersebut merupakan satu-satunya yang selamat dalam pembantaian itu.

Kasus ini telah menggemparkan Amerika khususnya masyarakat Connecticut. Saat kejadian, kedua pembunuh tersebut sedang dalam masa pembebasan bersyarat atas kasus perampokan.

(ita/ita)


Berita Terkait