"Kami telah menyampaikan keprihatinan kami akan perlakuan terhadap mereka yang ditangkap karena menggunakan hak-hak mereka untuk berdemonstrasi damai," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Mark Toner kepada para wartawan di Washington, DC seperti dilansir AFP, Kamis (8/12/2011).
"Kami tentunya akan mendukung hak-hak setiap orang untuk berdemonstrasi damai di manapun di dunia," tutur Toner. "Begitu pula dengan Rusia," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Selasa, 6 Desember lalu, aksi demo besar-besaran terjadi di Moskow. Unjuk rasa yang diramaikan ratusan orang itu disebut-sebut sebagai aksi demo oposisi terbesar di Rusia sejak awal tahun 1990-an silam. Aparat polisi antihuru-hara yang mengenakan helm, dengan kasar menarik para demonstran ke sejumlah kendaraan van untuk diamankan.
Kelompok oposisi mengancam akan kembali menggelar demo-demo lainnya untuk memprotes apa yang mereka sebut sebagai penipuan dalam pemilihan parlemen Rusia pada Minggu, 4 Desember lalu. Partai United Russia pimpinan Perdana Menteri Vladimir Putin memenangi pemilihan tersebut namun dengan kemenangan tipis.
(ita/vit)











































