Dalam pertemuan tertutup 'Saban Forum' di Washington, DC pada Sabtu, 3 Desember waktu setempat, Hillary mengungkapkan kekhawatirannya akan RUU 'antidemokrasi' yang diajukan para anggota sayap kanan pemerintahan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. RUU tersebut membatasi bantuan bagi organisasi HAM. Hillary menyebut RUU itu mengancam demokrasi Israel.
Hillary juga terkejut ketika mendengar bahwa beberapa bus di Yerusalem memiliki aturan pemisahan penumpang secara gender dan bahwa sejumlah tentara Israel menolak menghadiri event-event di mana kaum wanita akan tampil menyanyi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun untuk mengklaim bahwa ada ancaman atas demokrasi Israel adalah sangat keterlaluan," cetusnya seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (5/12/2011).
Menteri Lingkungan Hidup Israel Gilad Erdan melontarkan pernyataan senada. Menurutnya, Hillary harusnya lebih memikirkan permasalahan di negaranya sendiri.
"Pejabat-pejabat terpilih di seluruh dunia harusnya lebih mengkhawatirkan masalah-masalah mereka di dalam negeri," cetus Erdan.
Menteri Dalam Negeri Israel Eli Yishai bahkan denga tegas membela negeri Yahudi itu. Menurutnya, Israel tetap menjadi satu-satunya negara demokrasi di Timur Tengah.
"Saya anggap apapun yang akan dilakukan di sini masih dalam batasan hukum," tegasnya.
(ita/vit)











































