Sandera Warga AS, Al Qaeda Minta Bebaskan Anggotanya & Taliban

Sandera Warga AS, Al Qaeda Minta Bebaskan Anggotanya & Taliban

- detikNews
Jumat, 02 Des 2011 07:30 WIB
Sandera Warga AS, Al Qaeda Minta Bebaskan Anggotanya & Taliban
Islamabad - Kelompok al Qaeda mengaku bertanggung jawab atas penculikan seorang warga Amerika Serikat (AS) di Pakistan. Al Qaeda menuntut pembebasan anggotanya yang ditahan dan meminta untuk menghentikan serangan udara di negara itu.

Seperti diberitakan Reuters, Jumat (2/12/2011),berdasarkan rekaman suara dari pimpinan al Qaeda Ayman al-Zawahri dari sebuah situs berita Islam, al-Zawahri menyebut salah satu pimpinan al Qaeda yang berada di Pakistan, Attiyatullah tewas pada Agustus lalu dalam serangan udara AS.

"Sama seperti orang Amerika yang menahan semua orang yang dicurigai berhubungan dengan Al Qaeda dan Taliban. Kami menahan orang ini karena aktif dalam memberikan bantuan Amerika ke Pakistan sejak tahun tujuh puluhan," kata al Zawahri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga yang diculik tersebut adalah Warren Weinstein, seorang pengembang asal Amerika, di kota Lahore Pakistan pada bulan Agustus lalu.

Weinstein, (70), telah bekerja pada sebuah proyek di daerah Pakistan barat di mana pasukan Pakistan memerangi gerilyawan Islam selama bertahun-tahun.

Al Zawahri mengatakan, kelompoknya akan membebaskan Weinstein jika AS membebaskan semua rekannya yang berada di pusat penahan Guantanamo dan semua orang yang dipenjarakan karena berhubungan dengan al Qaeda atau Taliban. Dirinya juga menuntut mengakhiri serangan udara oleh Amerika Serikat dan sekutunya terhadap militan di Pakistan, Afghanistan, Yaman dan Somalia dan Gaza.

Al Zawahri juga menuntut pembebasan Ramzi Yousef, dipenjara di Amerika Serikat pada tahun 1993 karena terkait pemboman World Trade Center, dan Sheikh Omar Abdel Rahman, yang menjalani hukuman seumur hidup karena merencanakan untuk menyerang markas PBB.

Zawahri mengatakan bahwa Attiyatullah, seorang militan Libya yang nama aslinya adalah Jamal Ibrahim al-Misrati Ashtiwi, lolos dari serangan udara pertama AS, tetapi tewas bersama putranya, Issam dalam pemboman kedua pada 23 Agustus lalu.


(fiq/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads