"Balaskan darah para martir. Revolusi melawan pemerintahan yang baru," seru Aisha yang disiarkan oleh salah satu televisi berbasis Suriah-Arrai dan dilansir kantor berita AFP, Rabu (30/11/2011).
Aisha bersama ibunda dan dua saudara laki-lakinya diketahui melarikan diri ke Aljazair pada Agustus lalu. Mereka dibiarkan masuk ke negara tersebut demi alasan kemanusiaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, pernyataan Aisha ini memicu komentar dari sejumlah pihak. Dengan memberikan pernyataan kepada publik, Aisha dinilai melanggar kesepakatan pengasingan dengan otoritas Aljazair, di mana Aisha seharusnya menahan diri dari berbagai aktivitas politik.
Namun bagaimana pun juga, pernyataan ini bukan yang pertama dikeluarkan oleh Aisha. Sebelumnya, Aisha pernah memberi pernyataan pada September lalu yang intinya mengecam Dewan Transisi Nasional (National Transition Council/NTC) sebagai 'pengkhianat' dan mengimbau rakyat Libya untuk bangkit melawan pemerintahan yang baru.
(nvc/rdf)











































