Seperti diberitakan Telegraph, Selasa (29/11/2011), salah seorang pengacara HAM, Geoffrey Robertson QC, meminta kepada pemerintah Inggris agar dapat mendesak Suriah dibawa ke pengadilan internasional lewat Dewan Keamanan (DK) PBB.
Komisi penyelidikan PBB menyebutkan tentang kekejaman pasukan Presiden Assad terhadap anak-anak. Ada yang mendapatkan perlakukan kekerasan, bahkan ada yang disiksa hingga tewas di dalam tahanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saksi itu juga melihat pemerkosaan terhadap seorang anak berumur 11 tahun yang menurutnya dilakukan oleh tiga petugas keamanan.
Salah seorang mahasiswa juga mengaku dirinya mendapatkan kekerasan seksual selama masa penahanan. "Jika ayah saya hadir dan melihat saya, saya pasti sudah bunuh diri," terangnya.
Korban termuda lainnya adalah gadis berumur dua tahun yang ditembak mati pada tanggal 13 Agustus oleh seorang perwira militer. "Dia (pelaku) tidak ingin anak itu tumbuh menjadi demonstran," demikian menurut laporan komisi penyelidik PBB tersebut.
Secara total terdapat 256 anak yang telah dibunuh oleh pasukan negara. Beberapa di antaranya sengaja ditolak untuk mendapatkan perawatan medis saat terluka. Seorang anak berumur 15 tahun ditembak pada bagian kakinya di kota Homs pada 15 Agustus lalu ketika baru saja pulang dari masjid.
"Tetangganya mencoba untuk membawanya ke rumah sakit, namun pasukan keamanan telah memblokir akses keluar di pos-pos pemeriksaan," ujarnya.
Bahkan rumah sakit tidak selalu menjadi tempat yang aman, dengan pihak keamanan yang menyamar menjadi dokter untuk menyiksa dan melecehkan para pasien.
Komisi PBB yang diketuai oleh Paulo Pinheiro, berhasil melakukan wawancara dengan 223 korban dan dasar dari laporan saksi adalah. "Penyiksaan, kekerasan seksual dan perlakuan buruk pada warga sipil yang dicurigai bagian dari simpatisan pengunjuk rasa, tanpa mempredulikan jenis kelamin atau usia," kata Pinheiro.
(fiq/anw)











































