China sendiri diketahui banyak menanamkan investasi di Libya. Selain itu, pemerintah China juga menjadi penyokong rezim Khadafi sebelum revolusi terjadi. Namun, China menegaskan, pihaknya akan terus berusaha menjalin hubungan baik dengan pemerintah Libya.
"Pembentukan pemerintahan sementara Libya menandakan langkah maju ke depan dalam transisi politik Libya. China menyambut hal ini," ujar Kementerian Luar Negeri China dalam pernyataannya seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (23/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemarin (22/11), Perdana Menteri Interim Libya, Abdel Rahim al-Kib, mengumumkan susunan kabinet baru dalam jumpa pers. Pengumuman ini baru dilakukan setelah sebulan penangkapan dan kematian Khadafi, yang memerintah Libya dengan tangan besi selama 42 tahun terakhir.
Penunjukkan sejumlah pihak, seperti mantan pemberontak yang ikut menggulingkan Khadafi dan juga pengacara HAM yang sempat ditangkap saat pemberontakan sebagai anggota kabinet pun menuai kontroversi.
Selama pemberontakan berlangsung, China menjadi salah satu anggota Dewan Keamanan PBB yang menentang operasi militer NATO di Libya.
(nvc/irw)











































