Para pejabat pemerintah Libya bersikeras bahwa pria lulusan Inggris itu akan diadili di negara tersebut atas kejahatan terhadap rakyat Libya. Jika terbukti bersalah atas dakwaan itu, maka hukuman maksimum adalah hukuman mati.
Khawatir Saif akan mengalami nasib sama seperti almarhum ayahnya, organisasi HAM Amnesty International menyerukan agar Saif segera diserahkan ke ICC di Den Haag, Belanda. Khadafi tewas dibunuh tak lama setelah dirinya ditangkap pasukan pemberontak Libya bulan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Libya pun berjanji akan memberikan pengadilan yang adil bagi Saif. "Kami siap untuk mengadili. Kami telah mengadopsi prosedur hukum dan peradilan yang cukup untuk memastikan pengadilan yang adil baginya," tegas Menteri Kehakiman Libya Mohammed Al Alagy.
Jaksa penuntut ICC Luis Moreno Ocampo menurut rencana akan pergi ke Libya hari ini untuk mengadakan pembicaraan dengan penguasa Libya, Dewan Transisi Nasional (NTC). Dikatakannya, meski pemerintah Libya punya hak untuk mengadili warganya atas kejahatan perang, namun tujuan utama ICC adalah untuk memastikan adanya pengadilan yang adil.
Sekitar tiga pekan lalu sebelum tertangkap, Saif bersumpah akan membalas kematian ayahnya. "Saya hidup dan bebas dan akan melawan hingga akhir," cetusnya kala itu.
Saif ditangkap saat melakukan perjalanan bersama dua orang pembantunya di sebelah barat kota Obari, Libya. Saif ditangkap tanpa melakukan perlawanan.
(ita/vit)











































