Bentrok Demonstran vs Polisi di Mesir, 1 Tewas dan 676 Terluka

Bentrok Demonstran vs Polisi di Mesir, 1 Tewas dan 676 Terluka

- detikNews
Minggu, 20 Nov 2011 05:34 WIB
Bentrok Demonstran vs Polisi di Mesir, 1 Tewas dan 676 Terluka
Kairo - Bentrokan yang terjadi antara demonstran dan polisi di Kairo, Mesir memakan korban. Satu orang tewas dan 676 orang terluka akibat bentrok yang berlangsung di Tahrir Square tersebut.

Menurut kantor berita MENA yang dikutip oleh alarabiya.net, Minggu (20/11/2011),
polisi menyerbu kawasan Tahrir Square yang diduduki oleh para demonstran. Para demonstran ini sebagian juga merupakan keluarga korban yang tewas dalam penggulingan mantan Presiden Mesir Husni Mubarok pada Februari 2011 lalu.

Menurut koresponden AFP, bentrokan berawal ketika ribuan demonstran melempari polisi dengan benda-benda apapun yang mereka temui. Sementara polisi membalasnya dengan memukuli para demonstran menggunakan tongkat. Polisi juga menembakkan gas air mata kepada para demonstran dengan tujuan agar mereka membubarkan diri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Polisi juga menangkap beberapa demonstran yang dianggap memicu terjadinya bentrokan.

Para demonstran mengecam polisi dan juga pejabat yang diduga terlibat dalam penumpasan mematikan yang menewaskan banyak orang selama demo 18 hari penggulingan Mubarak.

Mubarak sendiri saat ini sedang diadili bersama dengan mantan Menteri Dalam Negeri dan mantan Kepala Tentara Mesir yang dituduh sebagai inisiator pembunuhan terhadap 850 warga yang tewas dalam pemberontakan.

Pada Jumat (18/11/2011) puluhan ribu massa berkumpul di Tahrir Square menuntut transisi dari pemerintahan militer ke pemerintahan sipil.

Massa tersebut merupakan gabungan dari 39 partai politik dan kelompok-kelompok sipil. Demo ini terjadi setelah perundingan gagal antara kelompok Islam dan kabinet mengenai proposal konstitusi.

Militer yang bertanggung jawab sejak pengunduran diri Mubarak pada 11 Februari, mengatakan akan menyerahkan kekuasaan setelah pemilihan presiden dilaksanakan.

Para pengunjuk rasa mengungkapkan kemarahan mereka terhadap rancangan konstitusi yang diajukan oleh Wakil Perdana Menteri Ali al-Silmi yang memberi wewenang kepada militer atas urusan internal dalam negeri serta anggaran.

Pemilihan parlemen Mesir, yang dilakukan sejak pemecatan Mubarak dan dimaksudkan sebagai langkah signifikan pertama menuju sistem demokrasi sipil, rencananya akan dimulai pada 28 November.

Tapi jadwal tersebut bisa terganggu jika partai politik dan pemerintah sementara gagal jika rancangan konstitusi yang diusulkan terus menimbulkan polemik.

(anw/anw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads