Demikian menurut data statistik FBI yang dirilis hari Senin, 14 November waktu setempat seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (15/11/2011).
Dalam data itu terlihat bahwa insiden yang dimotivasi oleh kebencian terhadap Islam meningkat menjadi 160 kasus pada tahun 2010 dibandingkan 107 kasus pada tahun sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut data FBI tersebut, total jumlah insiden yang digolongkan sebagai hate crime pada tahun 2010 mencapai 6.628 kasus. Dari jumlah itu, sebanyak 47,3 persen di antaranya berlatar belakang ras dan 20 persen di antaranya bermotif agama.
Hate crime dapat ditafsirkan sebagai kejahatan berbasis kebencian yang dikarenakan prasangka pada ras, agama, kesukuan, dan orientasi seksual.
Organisasi HAM Human Rights First menyampaikan keterkejutan atas angka-angka tersebut. Dikatakan pemimpin organisasi tersebut, Paul Legendre, peningkatan kasus hate crime merupakan hal yang merisaukan.
"Peningkatan kekerasan anti-Muslim itu sangat signifikan. Human Rights First sejak lama telah menekankan bahwa kekerasan anti-Muslim, serta bentuk-bentuk hate crime lainnya, harus dipandang dan disikapi sebagai pelanggaran serius HAM. Pemerintah AS bisa dan harus berbuat lebih banyak untuk menghadapi pelanggaran-pelanggaran ini," tegas Legendre.
(ita/nvt)










































