Demikian bukti-bukti yang dimuat dalam laporan badan pengawas nuklir PBB, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang disampaikan pejabat-pejabat yang familiar dengan laporan tersebut seperti diberitakan Los Angeles Times, Selasa (8/11/2011). Dalam laporan itu disebutkan, Iran telah memiliki pengetahuan dan material untuk memproduksi senjata nuklir pertamanya dengan bantuan dari seorang bekas ilmuwan Uni Soviet.
Bukti-bukti tentang kemajuan program nuklir Iran itu akan disampaikan IAEA dalam laporannya pekan ini. Menurut seorang diplomat Eropa, laporan IAEA tersebut tidak memberikan bukti kuat bahwa pemerintah Iran berniat memproduksi senjata nuklir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam laporan tersebut disebutkan adanya bukti bahwa para ilmuwan Iran diam-diam mengembangkan teknologi nuklir setelah tahun 2003, meski menurut penilaian intelijen AS pada tahun 2007, Iran telah menghentikan upaya tersebut empat tahun lebih awal.
IAEA juga mendapatkan dokumen yang mengungkapkan bahwa pada tahun 2007 para ilmuwan Iran membahas rencana untuk memulai studi empat tahun atas inisiator neutron yang merupakan detonator canggih.
"Tahun 2007 juga merisaukan, karena itu mengkonfirmasikan bahwa Iran terus melanjutkan riset nuklir yang terkait dengan aplikasi militer," kata diplomat Eropa yang tidak disebutkan namanya itu.
Pemerintah AS dan negara-negara lainnya telah lama mencurigai pemerintah Iran tengah mengembangkan senjata nuklir lewat program nuklir yang dijalankannya. Namun Presiden Mahmoud Ahmadinejad bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai yakni sebagai pembangkit energi.
(ita/vit)











































