Seperti dilansir smh.com.au, Senin (7/11/2011) media Australia The Sun-Herald memperoleh informasi dari sumber terpercaya, Channel Nine membayar AUD 200.000-300.000 atau Rp 1,8-2,7 miliar. Kisah MSN akan tampil dalam acara 60 Minutes, Nine News dan Nine Entertainment's ACP magazines.
Direktur Pelaksana Channel Nine, Jeffres Browne disebut-sebut sudah mencapai kesepakatan dengan keluarga. Kontrak pun sudah diteken oleh CEO Channel Nine, David Gyngell pada Kamis 3 November silam. Namun Jubir Channel Nine, David Hurley membantah kabar ini.
"Ini kategorinya bukan deal. Anda bisa percayai itu," kata Hurley kepada theage.com.au.
Kepada The Sun-Herald, Hurley pun berkata, "Kami pasti tertarik seperti juga semua media lain, tapi kami tidak bisa mengkonfirmasi apapun pada tahap ini."
Grant Vandenberg, wakil dari keluarga MSN mengatakan tidak ada deal apapun. "Sedih sekali kalau orang-orang mereka-reka cerita ini yang sangat tidak membantu dia (MSN)," ujar Vandenberg.
MSN, ABG asal Newcastle, New South Wales ini akan divonis pada Jumat (11/11) mendatang. Dia dimejahijaukan atas kepemilikan 3,6 gram ganja.
Bantahan dari Channel Nine muncul setelah kritikan dari Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait kepada media Australia. Arist menuding orang tua MSN dan media Australia berstandar ganda dengan mengeksploitasi kisah MSN.
"Orang tua telah melanggar hak asasi anak itu, mereka telah mengeksploitasi situasi itu dan media Australia telah melakukan hal yang sama," kata Arist.
Kritikan lain datang dari lembaga Australia, Crime Victims Support Association dan Australian Family Association. Terri Kelleher dari Australian Family Association mengatakan, orang tua remaja tersebut harus lebih memberi perhatian pada tuntutan yang diberikan kepada anak mereka daripada kesepakatan yang bernilai mahal tersebut.
"Saya rasa mereka harus lebih memperhatikan anak mereka ditangkap sedang membawa mariyuana, bukan malah mengeksploitasikannya ke media," kata Kelleher, Minggu (6/11).
(fay/vit)











































