Selain itu, pemerintah Suriah juga setuju untuk mengizinkan para jurnalis memonitor dan memberitakan situasi di negeri itu.
Hal itu merupakan bagian dari proposal rencana yang diajukan Liga Arab guna menghentikan pertumpahan darah antara pasukan pemerintah dan para demonstran. Atas rencana tersebut, pemerintah Suriah telah menyatakan persetujuannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini Assad mengerahkan militer dan tank-tank untuk menghancurkan aksi demo antipemerintah yang telah berlangsung berbulan-bulan. Menurut Assad, pasukan pemerintah memerangi para militan dan kelompok-kelompok bersenjata, bukan para demonstran.
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, lebih dari 3 ribu orang, sebagian besar warga sipil, telah tewas selama pertumpahan darah tersebut.
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat kembali mengulang seruannya agar Presiden Assad mundur. "Posisi kami tetap bahwa Presiden Assad telah kehilangan legitimasinya untuk memerintah dan harus mundur," kata juru bicara Gedung Putih Jay Carney kepada para wartawan di Washington.
Sebelumnya, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Victoria Nuland juga mengatakan, pemerintah Suriah telah banyak berjanji mengenai reformasi namun hanya kekerasan yang terus terjadi.
(ita/vit)










































