Serikat pilot Australia mencetuskan, keputusan Qantas itu merupakan pemerasan terang-terangan, bagaikan "menodongkan pisau ke tenggorokan negara".
"Alan Joyce menodongkan pisau ke tenggorokan negara," cetus wakil presiden serikat pilot, Australian and International Pilots Association (AIPA), Richard Woodward seperti dilansir AFP, Sabtu (29/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini hari paling menyedihkan bagi saya selama 25 tahun bersama Qantas," katanya lagi.
Maskapai Qantas telah mengalami serangkaian aksi mogok para pekerjanya mulai dari pilot, teknisi, pekerja bagasi serta staf darat dan katering. Aksi yang telah berlangsung lama itu telah menimbulkan kerugian besar bagi Qantas.
Para pilot, teknisi, pekerja bagasi, dan lainnya terlibat dalam aksi mogok yang merugikan perusahaan sebesar 15 juta dolar Australia atau sekitar Rp 141 miliar lebih dalam seminggu. Total kerugian sejauh ini mencapai sekitar 68 juta dolar Australia atau sekitar Rp 639 miliar lebih.
Perselisihan serikat pekerja dengan manajemen Qantas berawal Agustus lalu setelah maskapai Australia itu mengumumkan restrukturisasi dan rencana perekrutan pegawai melalui pihak ketiga. Serikat pekerja menolak rencana itu dengan mengatakan hal itu akan menimbulkan banyak pemecatan.
(ita/ita)











































