Dengan tewasnya pria berjuluk "Singa Afrika" itu, berarti Libya mulai memasuki transisi menuju demokrasi.
"Kita nyatakan kepada seluruh dunia bebasnya negara kita tercinta ini, dengan kota-kotanya, desa-desanya, gunung-gunung, gurun-gurun, dan langitnya," kata pembuka acara dalam deklarasi yang digelar di Benghazi, Minggu (23/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abdul Hafiz Ghoga, Wakil Ketua NTC, dengan membawa bendera Libya, mengambil tempat di podium. Ia tersenyum lebar dan lalu mendeklarasikan kebebasan Libya.
Pendukung NTC yang juga seorang pengacara Abdel Rahman el-Qeesy ikut berbicara di depan massa. Tidak ada yang meragukan lagi, menurut el-Qeesy, rakyat Libya memasuki era baru dalam sejarahnya.
"Kami adalah orang Libya. Kami telah menunjukkan kepada kamu siapa kami, Khadafi. Anda adalah Firaun di masa sekarang ini. Dan Anda telah jauh ke keranjang sampah sejarah," ucap el-Qeesy seperti dikutip reuters.
Kalimat itu disambut teriakan massa yang berkerumun di lokasi sambil mengibar-ibarkan bendera Libya. Suara mereka beradu dengan gumuruh musik yang diputar untuk mengiringi perayaan 'kemerdekaan' hari itu.
Seorang tokoh lokal NTC, Salah el Ghazal, memuji-muji Ketua NTC Mustafa Abdel Jalil. Ia menyatakan Abdel Jalil adalah satu-satunya orang yang pantas dijadikan tokoh saat ini. "Allah telah memberkati kita dengan Mustafa Abdel Jalil, yang pantas menjadi tokoh," ujar dia.
Kolonel Khadafi tewas di kampung halamannya, Sirte, dalam serangan oleh pasukan tentara NTC, Kamis, pekan lalu. Dia tewas dengan luka tembak di kepala dan kedua kakinya. Mayat Khadafi yang telanjang dada, diseret oleh pasukan dan dibawa ke sebuah masjib di Kota Misrata. Anaknya, Mo'tassim Khadafi, juga ikut tewas dalam serangan itu.
(irw/asp)











































