Di Roma, Italia, sekitar 10 ribu orang berpawai dengan panjang barisan beberapa kilometer di pusat kota Roma. Aksi ini berbarengan dengan pertemuan G-20 di Paris, Prancis, dimana menteri-menteri keuangan dan kepala bank sentral berunding soal krisis utang dan defisit di negara-negara barat. Namun, 1.000 demonstran berunjuk rasa di luar gedung pertemuan G-20.
Dilansir Reuters, massa di Roma yang memakai jaket berpenutup kepala, dan masker terlibat kerusuhan. Mereka membakar mobil, memecahkan kaca toko dan bank, serta menghancurkan lampu merah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerusuhan itu membuat demonstran dan warga di sekitar kawasan wisata Colosseum dan Basilika St Jon berlarian ke hotel dan gereja untuk mencari perlindungan.
Sementara itu, di Auckland, Selandia Baru, 3.000 demonstran tetap bisa melakukan aksi dengan damai untuk memprotes kerakusan perusahan dan bankir. Di Sydney, Australia, sekitar 2.000 orang termasuk komunitas Aborigin berunjuk rasa di depan Bank Sentral Australia. Di Asia, aksi protes dilakukan di Tokyo, Jepang; Manila, Filipina; Taipei, Taiwan; dan Hongkong.
Kembali di Eropa, sekitar 20.000 orang berpawai di Lisbon, Portugal dan Porto. Massa menembus barikade polisi di sekitar gedung DPR di Lisbon untuk menguasai tangga marmer gedung DPR itu. Kerusuhan ini dapat diredam polisi.
"Utang ini bukan milik kami! IMF, keluar dari sini sekarang!" pekik para demonstran yang membawa spanduk "Kami bukan barang jualan di tangan bankir! Jangan ada lagi pinjaman untuk bank!"
Sedangkan di Yunani, 4.000 orang berunjuk rasa di Athena. Mereka meneriakan slogan, "Yunani tidak dijual!" dalam aksi di lapangan Syntagma, Athena. Mereka kecewa dengan kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan kehidupan perekonomian rakyat kecil.
"Dengan kebijakan baru, mereka menghancurkan orang-orang yang gajinya pas-pasan. Yang terjadi di Yunani sekarang adalah mimpi buruk," kata Maria Kolozi (56), seorang guru sekolahan.
(fay/lia)











































