"Saya tidak menginginkan kekuasaan dan saya akan menyerahkannya dalam beberapa hari ke mendatang," ujar Presiden Saleh saat berpidato dalam sebuah tayangan televisi setempat dan dilansir AFP, Sabtu (8/10/2011).
Presiden berusia 69 tahun ini bahkan melancarkan sindiran kepada para lawan politiknya yang membuatnya enggan mengundurkan diri. Saleh menyatakan, tidak akan memberikan kekuasaan pada oposisi yang hanya akan menghancurkan negara Yaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden yang berkuasa selama 33 tahun terakhir ini menolak mundur di bawah persyaratan masa transisi yang ditawarkan oleh negara-negara kawasan Arab.
"Selama sembilan bulan terakhir, rakyat Yaman telah menolak rencana yang disusun negara-negara Arab, tidak Tunisia atau Mesir atau Libya," ucapnya.
Saleh bahkan mengumumkan bahwa dirinya akan segera melakukan rapat dengan parlemen segera. "Kami akan mengadakan pertemuan pada beberapa hari mendatang untuk menjelaskan kepada rakyat yang sebenarnya dan perkembangannya secara transparan," tandas Saleh.
Pernyataan Presiden Saleh ini memancing beragam komentar, salah satunya dari aktivis wanita Yaman peraih Nobel Perdamaian tahun ini, Tawakkul Karman. Menurut Karman, pernyataan Saleh tersebut tidak bisa dipercaya sama sekali.
"Kami tidak percaya dengan pria ini dan jika dia ingin mundur, baiklah, itu terserah dia. Tapi dia harus menyerahkan kekuasaannya, dia harus menyerahkan kekuasaan yang telah dicurinya dari rakyat pejuang revolusi, aturan revolusi. Kami tidak percaya dia," tegasnya kepada Al Jazeera.
Selain itu, pemimpin oposisi dari Forum Publik, Mohammed Sabri menyebut pernyataan Saleh sebagai 'disinformasi murni'.
"Jika dia serius, kenapa dia tidak mundur sore ini juga, seperti yang dinginkan oleh rakyat Yaman selama ini?" tanya Sabri.
Unjuk rasa antairezim Presiden Saleh telah mencuat di beberapa kota sejak Januari lalu. Aksi ini didukung oleh kelompok oposisi Yaman.
Sementara itu, Presiden Saleh diketahui baru kembali dari Arab Saudi pada 23 September setelah menjalani operasi atas luka-luka yang dideritanya dalam serangan roket, selama 3 bulan.
Tidak hanya di dalam negeri saja, dunia internasional juga mendesak Saleh untuk mundur. Namun, Saleh menolaknya dengan tegas.
Saleh bahkan terus-menerus menolak untuk mendatangani perjanjian Gulf Cooperation Council yang ditawarkan padanya. Saleh juga menolak untuk menyerahkan kekuasaannya kepada Wakil Presiden Abdrabuh Mansur Hadi.
Menurutnya, pergantian pemerintahan hanya bisa dilakukan melalui pemilihan umum (pemilu). Pada 29 September lalu, Saleh bahkan menyatakan tidak akan mundur jika lawan politiknya diperkenankan mengikuti pemilu mendatang.
Yang dimaksud Saleh yakni Jenderal Ali Mohsen al-Ahmar yang membelot darinya dan berbalik mendukung para pendemo serta pemimpin kelompok adat Sheikh Sadiq al-Ahmar. "Jika kita menyerahkan kekuasaan dan ada mereka, ini bebarti jelas-jelas terjadi kudeta," tandas Presiden Saleh.
(nvc/lrn)











































