Seperti dilansir Channel News Asia dari AFP, Minggu (2/10/2011), hari ini adalah saatnya para pembantu rumah tangga berlibur. Mereka akan memenuhi semua ruang publik dan trotoar Hong Kong. PRT Indonesia dan Filipina berkumpul dengan teman-temannya hari ini.
Dengan adanya keputusan pengadilan, mereka kini bisa mengajukan status permanen residen. Keputusan ini ditanggapi beragam oleh masyarakat, termasuk oleh para PRT sendiri. Sementara pemberitaan di Hong Kong banyak mengulas itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akan sulit pastinya, kami tahu. Ongkos sewa kan mahal. Tapi saya tidak mau menjadi pembantu selamanya," kata dia kepada South China Morning Post.
Namun biaya hidup dan rindu keluarga, menjadi faktor sebagian PRT menampik kesempatan ini. "Saya ingin pulang," kata Asriyatun (34) yang sudah 6 tahun tinggal di Hong Kong.
Keputusan dari pengadilan menyebutkan warga negara asing dapat mengajukan izin tinggal setelah tinggal 7 tahun berturut-turut. Mereka punya hak memilih dalam pemilu dan bisa tinggal tanpa visa kerja.
Di Hong Kong, ada 292.000 PRT asing. Dengan adanya izin tinggal tetap, PRT asing tidak lagi terikat oleh satu majikan, tapi bisa mencari pekerjaan lain.
Parpol pro pemerintah menaksir akan ada arus masuk 500.000 orang termasuk anak dan pasangan hidup dari PRT itu. Artinya, pemerintah Hong Kong harus mengeluarkan anggaran 25 miliar dollar Hong Kong untuk pos kesejahteraan sosial. Tingkat pengangguran pun ditaksir naik dari 3,5 persen menjadi 10 persen.
Pemerintah Hong Kong kecewa dengan keputusan pengadilan dan akan mengajukan banding. Mereka meminta izin pengadilan agar izin tinggal tetap tidak diproses selama proses banding diajukan. Sejumlah anggota DPR Hong Kong mengusulkan agar isu ini diserahkan ke pemerintah Cina di Beijing. Unjuk rasa juga muncul memprotes keputusan pengadilan.
"Kami mengakui sumbangsih para pembantu dan peran mereka dalam ekonomi. Mereka membuat para perempuan Hong Kong bisa menjadi wanita karir. Tapi memberi status izin tinggal adalah urusan yang berbeda," kata pebisnis Jeff Lam yang menolak keputusan pengadilan. Lam memiliki pembantu asal Filipina.
(fay/feb)











































