Insiden tersebut melibatkan pesawat Boeing 777 milik maskapai Cathay Pacific yang tiba dari New York, Amerika Serikat dan pesawat Airbus A330 milik maskapai Dragonair yang bertolak dari Taiwan. Kedua pesawat diberitahu untuk menunda pendaratan dikarenakan cuaca buruk pada 18 September lalu namun ternyata keduanya kemudian nyasar ke jalur masing-masing pesawat.
Menurut otoritas setempat, jarak antara kedua pesawat tersebut sekitar 2 ribu meter di ketinggian yang sama sebelah barat daya bandara Hong Kong ketika sistem peringatan pencegah tabrakan berbunyi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut mantan kepala aviasi sipil Hong Kong, Albert Lam, saat kejadian itu, kedua pesawat bisa mengalami tabrakan hanya dalam waktu enam detik berdasarkan jarak dan kecepatan normal pesawat.
Syukurlah, kedua pesawat akhirnya mendarat dengan selamat tanpa insiden. Kedua pesawat mendarat dengan selisih waktu 14 menit.
"Kemungkinan kecelakaan benar-benar tinggi. Para penumpang benar-benar kembali dari neraka," kata Lam kepada surat kabar The Standard seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (27/9/2011).
Namun menurut juru bicara Cathay Pacific, maskapai Hong Kong yang juga pemilik Dragonair, tak ada risiko tabrakan saat itu. "Tak ada risiko tabrakan dan keselamatan penerbangan tidak terganggu," ujarnya.
Cathay menegaskan, insiden tersebut telah dilaporkan ke otoritas aviasi sipil. Cathay juga berjanji akan bekerja sama dalam penyelidikan insiden tersebut.
(ita/vit)











































