Rusia dan China Tolak Sanksi Internasional terhadap Suriah

Rusia dan China Tolak Sanksi Internasional terhadap Suriah

- detikNews
Selasa, 13 Sep 2011 10:40 WIB
Rusia dan China Tolak Sanksi Internasional terhadap Suriah
Damaskus - Amerika Serikat dan negara-negara Eropa terus mendesak adanya sanksi-sanksi internasional yang lebih luas terhadap Suriah terkait operasi antidemonstran yang dilancarkan pasukan Suriah. Namun Rusia dan China terus menolak keras upaya tersebut.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan, sanksi-sanksi yang belum lama ini diterapkan AS dan Eropa terhadap Suriah sama sekali tidak diperlukan dalam masalah ini. Rusia memiliki basis Angkatan Laut di Suriah.

Hal itu disampaikan Medvedev seperti dilansir Reuters, Selasa (13/9/2011), sehari setelah pemerintah Prancis menyebut kurangnya ketegasan PBB terhadap Suriah sebagai suatu skandal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rusia dan China sejak awal terus menolak upaya-upaya AS dan Eropa untuk meningkatkan respons internasional terhadap pemerintah Suriah di bawah pimpinan Presiden Bashar al-Assad.

AS, Prancis, Inggris, Jerman dan Portugal telah mengedarkan draf resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan sanksi terhadap Presiden Assad beserta keluarga dan orang-orang terdekatnya. Namun draf itu mendapat penolakan keras dari Rusia dan China.

"Saya pikir ini skandal karena tidak adanya sikap jelas PBB mengenai krisis mengerikan seperti itu," cetus Menteri Luar Negeri Prancis Alain Juppe.

"Kami pikir rezim itu telah kehilangan legitimisai. Kami pikir sudah sangat terlambat untuk menerapkan reformasi. Kita harus mengadopsi resolusi yang sangat jelas di New York yang mengecam kekerasan itu," imbuhnya.

Presiden Assad terus menuai kecaman karena memerintahkan operasi militer dan penangkapan para demonstran yang telah merenggut ribuan nyawa. Menurut PBB, setidaknya 2.600 orang tewas sejak aksi demo antipemerintah besar-besaran pecah di Suriah pada Maret lalu.

Pada Senin, 12 September lalu, warga dan aktivis lokal mengatakan, pasukan Suriah menewaskan setidaknya 22 warga sipil di Kota Homs dan Hama.

Menurut saksi mata, dalam peristiwa itu setidaknya 2 ribu tentara yang didukung oleh lusinan kendaraan lapis baja melepaskan tembakan secara acak dan menyerbu beberapa desa dan kota di wilayah al-Ghab Plain, tanah pertanian di sebelah barat daya Kota Hama.


(ita/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads