Bahkan menurut para jaksa, hubungan seks tersebut tidak konsensual alias dipaksakan oleh Strauss-Kahn. Namun kebohongan-kebohongan yang telah dilakukan Diallo menghancurkan peluang untuk mengadili Strauss-Kahn.
Dalam mosi setebal 25 halaman, Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan, New York menyatakan, hasil tes DNA membuktikan bahwa bercak sperma yang ditemukan di pakaian seragam Diallo adalah milik Strauss-Kahn.
Meski terjadi hubungan seks dalam insiden 14 Mei lalu di Hotel Sofitel, Manhattan, namun tidak serta-merta membuktikan pengakuan Diallo bahwa dirinya diserang dan dipaksa melakukan oral seks.
Menurut jaksa, Diallo tidak menunjukkan cedera yang mengindikasikan percobaan pemerkosaan. Meski ada sedikit kerusakan pada celana dalamnya, namun itu bisa saja terjadi karena hal biasa.
Namun faktor-faktor lainnya, seperti sifat hubungan seks yang terburu-buru hingga menyebabkan sperma Strauss-Kahn menempel di pakaian Diallo, menunjukkan adanya pemaksaan hubungan.
"Hubungan antara pelapor dan tersangka adalah singkat, mengindikasikan bahwa perbuatan seks itu kemungkinan bukan merupakan hasil hubungan suka sama suka," demikian disampaikan jaksa dalam mosinya seperti diberitakan AFP, Selasa (23/8/2011).
Namun meski polisi dan jaksa menemukan bahwa kisah yang disampaikan Diallo adalah kredibel, namun wanita asal Guinea itu dengan cepat merusak kasusnya dengan berbohong kepada penyidik dan dewan juri.
Salah satu contoh kebohongan wanita berumur 32 tahun itu adalah dia berulang kali mengubah-ubah ceritanya tentang apa yang segera dilakukannya setelah kejadian di Sofitel tersebut. Awalnya Diallo mengaku dirinya bersembunyi ketakutan di koridor usai kejadian tersebut. Namun kemudian wanita Afrika itu mengaku kembali ke kamar Strauss-Kahn untuk membersihkan ruangan tersebut setelah Strauss-Kahn pergi meninggalkan hotel.
Yang paling serius, Diallo mengaku bahwa dirinya telah mengarang cerita saat mengajukan aplikasi suakanya ke AS dengan mengaku diperkosa beramai-ramai di Guinea.
Dalam sebuah sesi dengan jaksa, Diallo berulang kali menyampaikan kisah pemerkosaan tersebut dengan sangat emosional. Dia bahkan sempat menangis, berbicara terbata-bata dan menundukkan wajahnya saat menceritakan pemerkosaan itu. Namun kemudian Diallo mengatakan bahwa dirinya telah mengarang kejadian tersebut.
Kebohongan-kebohongan tersebut, menurut jaksa, menjadikan posisi Diallo lemah untuk didengarkan kesaksiannya. Sebab para pengacara Strauss-Kahn akan beragumen pada juri bahwa Diallo punya sejarah merekayasa serangan seks.
(ita/nrl)











































