"Tripoli berada di bawah kendali kami. Semua orang harus yakin. Semuanya baik-baik saja di Tripoli," ucap Saif kepada sekelompok kecil wartawan di luar kompleks markas Khadafi di Bab al-Azizya, seperti dilansir AFP, Selasa (23/8/2011).
"Anda telah melihat bagaimana rakyat Libya bangkit," imbuhnya.
Saif menyebut, berita jatuhnya rezim Khadafi hanya bersumber pada pesan singkat yang disebarluaskan pihak tertentu kepada rakyat Libya pada Minggu (21/8) lalu.
"Barat memiliki teknologi tinggi yang mengganggu sistem telekomunikasi dan mengirimkan pesan-pesan ke orang-orang," ungkapnya.
"Ini adalah perang teknologi dan media yang berakibat pada kekacauan dan teror di Libya," tambah Saif.
Saif al-Islam menjadi figur yang dicari-cari oleh Pengadilan Kejahatan Internasional atas tuduhan kejahatan kemanusiaan. Saif bersama-sama dengan sang ayah dituding mendalangi aksi kekerasan, penganiayaan, dan penyiksaan dalam meredam aksi pemberontakan di Libya, Februari lalu. Di mana saat itu terdapat banyak pemberontak anti-Khadafi yang tewas akibat serangan bersenjata pasukan pemerintah Libya.
(nvc/nrl)











































