Hal ini semakin miris di tengah kampanye hemat energi yang digalakkan pemerintah Jepang karena bencana nuklir di Fukushima. Demikian seperti diberitakan media setempat dan dilansir AFP, Jumat (12/8/2011).
Pada masa musim panas ini, temperatur cuaca dilaporkan meningkat hingga di atas 35 derajat Celcius, selama 3 hari berturut-turut di sebagian wilayah Jepang. Hal ini semakin dipersulit dengan adanya pemadaman pendingin ruangan secara massal, merujuk pada upaya penghematan konsumsi listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat gelombang panas ini, menurut harian lokal Asahi, sebanyak 4 orang dilaporkan meninggal pada Kamis (11/8) kemarin. Mereka diketahui sebagai dua petani, seorang petugas keamanan, dan seorang pekerja bangunan.
Sedangkan kantor berita Kyodo menyebutkan, lebih dari 900 orang harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat gejala stroke panas. Sebanyak 20 orang di antaranya dilaporkan dalam kondisi serius.
Sementara itu, menurut data Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Jepang, sejak awal Juli dilaporkan lebih dari 21 ribu warga Jepang dilarikan ke rumah sakit akibat panas yang berkepanjangan di musim panas ini. Dari jumlah tersebut, 32 di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Minggu ini memang menjadi minggu tersibuk di Jepang, di mana jutaan warga kembali ke kampung halaman masing-masing untuk menghadiri Festival Obon demi menghormati nenek moyang mereka. Sementara itu, tidak sedikit juga warga Jepang yang berpergian dalam rangka libur musim panas.
(nvc/nrl)











































