Seorang jurnalis harian Inggris, Daily Telegraph, Matthew Sparkes mengungkapkan kesedihan tersebut saat melintasi sejumlah kawasan di London. Dia sempat melihat beberapa orang ditangkap polisi di Park Lane dan King's Cross. Sparkes juga menyaksikan aksi penjarahan di Finsbury Park.
"Sebagian kota malam ini terasa normal namun di kota-kota lainnya, ancaman begitu terasa. Beberapa bahkan sangat berbahaya," tulis Sparkes di akun Twitter-nya seperti dilansir Daily Telegraph, Selasa (9/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang reporter Daily Telegraph lainnya, Andrew Hough melaporkan, seorang pengendara mobil dikeluarkan dari kendaraannya dengan tubuh berdarah-darah.
Kepada Hough, pria yang gemetaran itu berujar: "Ada geng di mana-mana. Kita tak bisa pergi ke manapun."
Hough pun sempat menyaksikan aksi penjarahan di Clapham Junction, London Selatan. "Anarki di jalan-jalan sebelah selatan London malam ini. Tak ada polisi. Saya menyaksikan penjarahan di depan mata saya. Apa yang dilakukan otoritas? Di mana mereka?" cetusnya.
Kepolisian Inggris sejauh ini telah menangkap lebih dari 300 orang terkait kerusuhan yang terjadi di negeri itu. Huru-hara itu meletus pada Sabtu, 6 Agustus lalu di kawasan Tottenham yang diawali dengan aksi damai memprotes kematian Mark Duggan, pria blasteran kulit hitam. Ayah empat anak itu tewas ditembak dalam pertikaian dengan polisi pada Kamis, 4 Agustus lalu.
Suasana damai berubah rusuh ketika sekitar 300 hingga 500 orang berkumpul di sekitar kantor polisi Tottenham. Beberapa demonstran kemudian membuat bom molotov dan melemparkan ke barisan polisi. Yang lainnya melawan polisi dengan tongkat bisbol dan balok serta mencoba menyerbu kantor polisi.
Dalam beberapa jam, polisi antihuru-hara dan sejumlah polisi berkuda bentrok dengan ratusan perusuh. Kebakaran pun menjalar tak terkendali dan aksi penjarahan terjadi di sejumlah titik.
(ita/nrl)











































