Kisah Ashraf/Alesha dari Malaysia

Kisah Ashraf/Alesha dari Malaysia

- detikNews
Minggu, 31 Jul 2011 16:25 WIB
Kisah Ashraf/Alesha dari Malaysia
Kuala Terengganu - Bukan perkara mudah berganti identitas dari lelaki menjadi perempuan di Malaysia, yang berpenduduk mayoritas Muslim. Akibatnya, Ashraf yang berniat menjadi Alesha, membawa nama itu hingga mati.

Nama aslinya adalah Ashraf Hafiz Abdul Aziz (25). Karena kelainan di organ seksualnya, seperti penis yang kecil, mantan asisten apoteker itu memutuskan menjadi perempuan lewat operasi kelamin di Thailanda pad 2008.

Karena memiliki identitas baru, dia pun mendaftarkan diri ke Departemen Registrasi Nasional untuk mengupdate jenis kelamin dan mengubah namanya menjadi Alesha. Tapi apa lacur, permintaannya ditolak. Tak terima, Ashraf membawa kasus ini ke pengadilan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada 18 Juli, pengadilan tinggi di negara bagian Terengganu yang konservatif, menolak permohonannya. Pengadilan memutuskan, jenis kelamin seseorang ditentukan saat lahir sehingga Ashraf tidak bisa mengganti nama dan jenis kelamin di kartu penduduknya.

Penolakan pengadilan kala itu menjadi berita di Malaysia. Dan beberapa hari kemudian, namanya kembali menjadi berita setelah Ashraf meninggal dunia di usia muda.

Harian Sunday Star seperti dikutip AFP, Minggu (31/7/2011) menulis, Ashraf dilarikan ke rumah sakit pada hari Jumat (29/7) karena tekanan darahnya terlalu rendah dan nyeri dada, setelah sebelumnya mengeluh mual dan pusing. Namun hari itu menjadi hari penghabisan Ashraf. Dia menghembuskan nafas terakhir karena masalah jantung. Dia dimakamkan sebagai laki-laki berdasarkan tata cara Islam.

"Dia lahir sebagai laki-laki, oleh karena itu hanya tepat bagi kami untuk menguburnya sebagai lelaki," ujar ayahnya, Abdul Aziz Ahmad (60).

Ibu Ashraf, Mah Yah (50), menyatakan, satu-satunya rasa sesalnya adalah anaknya itu tidak bisa memakai kostum tradisional Melayu (baju kurung) berwarna pink, padahal Ashraf bersemangat memakainya untuk Idul Fitri mendatang. "Ashraf sangat penuh cinta kasih dan orang yang baik," kenangnya.

Mah Yah berharap kecaman publik kepada keluarganya segera berakhir dengan kematian anak tercintanya. Dia menuturkan, semasa masih hidup, anaknya depresi atas pemberitaan negatif tentangnya.

(nrl/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads