Murdoch & Anaknya Minta Maaf di Depan Parlemen Inggris

Skandal Penyadapan Telepon

Murdoch & Anaknya Minta Maaf di Depan Parlemen Inggris

- detikNews
Selasa, 19 Jul 2011 21:36 WIB
Murdoch & Anaknya Minta Maaf di Depan Parlemen Inggris
Jakarta - Rupert Murdoch dan putranya, James, bertemu dengan parlemen Inggris. Keduanya meminta maaf atas skandal penyadapan telepon yang dilakukan oleh News of the World (NOTW) di bawah News Corporation.

"Pertama-tama, saya ingin mengungkapkan penyesalan dan terutama kepada korban penyadapan telepon dan keluarganya," kata James seperti dikutip dari reuters, Selasa (19/7/2011).

James mengatakan, tindakan penyadapan itu tidak sesuai dengan standar. Ia juga bertekad agar hal peristiwa tersebut tidak terjadi lagi di masa mendatang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya hanya ingin mengucapkan satu kalimat saja. Ini adalah hari paling sederhana dalam hidup saya," kata Murdoch, yang duduk di samping putranya.

Suasana tanya-jawab berlangsung sangat interaktif. James dan Rupert bergantian menjawab pertanyaan para anggota parlemen yang berjumlah sekitar 12 orang.

Kerajaan media Murdoch mendapat tekanan setelah keluarga Milly Dowler, seorang anak perempuan yang tewas dibunuh namun teleponnya disadap oleh NOTW sehingga sempat dianggap masih hidup oleh keluarganya, terungkap.

Mingguan NOTW juga diperkirakan menyadap telepon milik para korban serangan bom di London, Juli 2005.

Belakangan diketahui tabloid beroplah 2,8 juta berusia 168 tahun itu kerap melakukan penyadapan terhadap sejumlah tokoh untuk keperluan pemberitaan. NOTW telah berhenti terbit pekan lalu dengan edisi terakhir berjudul "Thank you and good bye". Tetapi kasusnya terus berjalan.

Selain di Inggris, penyadapan telepon diduga juga terjadi di AS. Saat ini FBI tengah menyelidiki dugaan itu. Skandal ini disebut-sebut merupakan terburuk di sepanjang sejarah media massa.

Murdoch adalah raja media asal Australia yang kini menjadi warga negara AS. Dia berkibar dengan bendera News Corp. Media yang dimilikinya antara lain The Sun, The Daily Telegraph, Fox Broadcasting Company dan The Wall Street Journal.


(irw/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads