"Pertama-tama, saya ingin mengungkapkan penyesalan dan terutama kepada korban penyadapan telepon dan keluarganya," kata James seperti dikutip dari reuters, Selasa (19/7/2011).
James mengatakan, tindakan penyadapan itu tidak sesuai dengan standar. Ia juga bertekad agar hal peristiwa tersebut tidak terjadi lagi di masa mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana tanya-jawab berlangsung sangat interaktif. James dan Rupert bergantian menjawab pertanyaan para anggota parlemen yang berjumlah sekitar 12 orang.
Kerajaan media Murdoch mendapat tekanan setelah keluarga Milly Dowler, seorang anak perempuan yang tewas dibunuh namun teleponnya disadap oleh NOTW sehingga sempat dianggap masih hidup oleh keluarganya, terungkap.
Mingguan NOTW juga diperkirakan menyadap telepon milik para korban serangan bom di London, Juli 2005.
Belakangan diketahui tabloid beroplah 2,8 juta berusia 168 tahun itu kerap melakukan penyadapan terhadap sejumlah tokoh untuk keperluan pemberitaan. NOTW telah berhenti terbit pekan lalu dengan edisi terakhir berjudul "Thank you and good bye". Tetapi kasusnya terus berjalan.
Selain di Inggris, penyadapan telepon diduga juga terjadi di AS. Saat ini FBI tengah menyelidiki dugaan itu. Skandal ini disebut-sebut merupakan terburuk di sepanjang sejarah media massa.
Murdoch adalah raja media asal Australia yang kini menjadi warga negara AS. Dia berkibar dengan bendera News Corp. Media yang dimilikinya antara lain The Sun, The Daily Telegraph, Fox Broadcasting Company dan The Wall Street Journal.
(irw/mad)











































