Iklan terbaru itu berjudul "Putting right what's gone wrong." Di dalamnya tertulis bahwa kewajiban perusahaan termasuk "bekerjasama penuh dengan polisi" dan memberikan "kompensasi untuk mereka yang terkena dampak." Perusahaan itu juga "berkomitmen untuk berubah."
Dalam kaitannya dengan penyelidikan polisi, tertulis: "Tidak ada alasan dan harus tidak ada tempat untuk bersembunyi. Kami tidak akan mentolerir kesalahan dan akan bertindak berdasarkan bukti." Demikian dilaporkan The Sydney Morning Herald (SMH), Minggu (17/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerajaan media Murdoch mendapat tekanan setelah keluarga Milly Dowler, seorang anak perempuan yang tewas dibunuh namun teleponya disadap oleh News of The World (NOTW) sehingga sempat dianggap masih hidup oleh keluarganya, terungkap.
Mingguan NOTW juga diperkirakan menyadap telepon milik para korban serangan bom di London, Juli 2005.
Belakangan diketahui tabloid beroplah 2,8 juta berusia 168 tahun itu kerap melakukan penyadapan terhadap sejumlah tokoh untuk keperluan pemberitaan. News of the World telah berhenti terbit pekan lalu dengan edisi terakhir berjudul "Thank you and good bye". Tetapi kasusnya terus berjalan.
Selain di Inggris, penyadapan telepon diduga juga terjadi di AS. Saat ini FBI tengah menyelidiki dugaan itu. Skandal ini disebut-sebut merupakan terburuk di sepanjang sejarah media massa.
Murdoch adalah raja media asal Australia yang kini menjadi warga negara AS. Dia berkibar dengan bendera News Corp. Media yang dimilikinya antara lain The Sun, The Daily Telegraph, Fox Broadcasting Company dan The Wall Street Journal.
(nrl/pbc)











































