Hati Murdoch luluh ketika hasil penyelidikan FBI mengungkapkan adanya kemungkinan pengembangan kasus penyadapan ke Amerika Serikat. Murdoch melepas keinginannya untuk melawan dan menerima pengunduran diri Brooks. Demikian dilansir AFP, Sabtu (16/7/2011).
Brooks adalah editor koran tersebut sejak tahun 2000-2003. Saat itu, penyadapan sudah dilakukan terhadap korban pembunuhan Milly Dowler. Kasus inilah yang diklaim menjadi pemicu krisis di koran tersebut. Kemungkinan ini sudah dibantah oleh Brooks.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya pengunduran diri Brooks dikonfirmasi oleh perusahaan induk, News Corp. yang berbasis di New York, AS. News Corp. merupakan jaringan media yang dimiliki konglomerat media terbesar di dunia Rupert Murdoch.
"Saya bisa konfirmasi bahwa dia telah mengundurkan diri," kata juru bicara News Corp. kepada kantor berita AFP, Jumat (15/7/2011).
Brooks juga telah mengirimkan pesan internal untuk para staf mengenai pengunduran dirinya. Dalam pesannya itu, wanita tersebut mengungkapkan dirinya merasa sangat bertanggung jawab atas krisis yang terjadi dan yang telah mengakibatkan ditutupnya tabloid NOTW.
"Saya telah menyampaikan pengunduran diri saya kepada Rupert dan James Murdoch," tulis Brooks dalam pesannya.
"Sebagai Chief Executive perusahaan, saya merasakan tanggung jawab mendalam atas orang-orang yang telah kita lukai dan saya ingin menekankan bagaimana menyesalnya saya atas kejadian yang sekarang kita tahu," tulisnya.
Koran NOTW yang telah berumur 168 tahun ditutup oleh Murdoch beberapa hari lalu dikarenakan skandal penyadapan telepon. Dugaan penyadapan telepon oleh NOTW sebenarnya telah berlangsung selama beberapa tahun. Selama ini yang diketahui menjadi korban penyadapan media tersebut adalah kaum selebritis dan tokoh-tokoh publik lainnya.
Namun belum lama ini, skandal tersebut meledak setelah terungkapnya dugaan seorang penyelidik yang bekerja untuk NOTW telah mendengarkan dan menghapus pesan suara seorang remaja berumur 13 tahun yang hilang dan kemudian ditemukan tewas. Hal itu menimbulkan kemarahan pemerintah dan publik Inggris yang menyebut tindakan tersebut telah kelewatan.
Apalagi kemudian muncul pula dugaan penyuapan terhadap polisi untuk mendapat informasi. Surat kabar Evening Standard melaporkan sejumlah wartawan dan pejabat senior NOTW mengeluarkan lebih dari 100.000 poundsterling (Rp 1,3 miliar) untuk membayar polisi. Kasus ini tengah dalam penyelidikan.
(mad/mei)











































