Rupert Murdoch Akan Bicara di Parlemen Inggris Soal Penyadapan Telepon

Rupert Murdoch Akan Bicara di Parlemen Inggris Soal Penyadapan Telepon

- detikNews
Jumat, 15 Jul 2011 12:57 WIB
Rupert Murdoch Akan Bicara di Parlemen Inggris Soal Penyadapan Telepon
London - Setelah sebelumnya sempat menolak, konglomerat media Rupert Murdoch akhirnya setuju untuk menjawab pertanyaan para anggota parlemen Inggris atas skandal penyadapan telepon yang dilakukan salah satu korannya, News of the World.

Murdoch dan putranya, James selaku pemilik News of the World (NOTW) akan hadir dalam sidang hearing parlemen yang akan digelar pada Selasa, 19 Juli mendatang. Demikian seperti diberitakan The Australian, Jumat (15/7/2011).

Dalam kesempatan itu, Murdoch akan menghadapi berbagai pertanyaan mengenai skandal yang telah mencoreng reputasi perusahaan News Corporation milik Murdoch. Akibat skandal ini, Murdoch telah menutup News of the World yang telah berumur 168 tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya Murdoch menolak untuk datang ke hearing parlemen tersebut. Namun sikapnya berubah setelah komite parlemen Inggris mengeluarkan surat pemanggilan resmi. Sebab Murdoch bisa dituduh melakukan penghinaan parlemen jika dirinya tidak memenuhi panggilan resmi tersebut. Bahkan Perdana Menteri (PM) David Cameron pun mengatakan bahwa Murdoch harus hadir.

Dikatakan Murdoch, dalam pertemuan pekan depan, dirinya akan merespons hal-hal yang telah beredar di parlemen, yang sebagian merupakan kebohongan total.

"Kami pikir ini penting untuk benar-benar menegakkan integritas kami di mata publik.... Saya merasa yang terbaik adalah bersikap transparan secepat mungkin," kata Murdoch kepada Wall Street Journal.

Disampaikan Murdoch, komite independen yang dibentuknya juga akan menyelidiki semua tuduhan terhadap News Corp.

Dugaan penyadapan telepon oleh NOTW sebenarnya telah berlangsung selama beberapa tahun. Selama ini yang diketahui menjadi korban penyadapan adalah kaum selebritis dan tokoh-tokoh publik lainnya.

Namun belum lama ini, skandal tersebut meledak setelah terungkapnya dugaan seorang penyelidik yang bekerja untuk NOTW telah mendengarkan dan menghapus pesan suara seorang remaja berumur 13 tahun yang hilang dan kemudian ditemukan tewas. Dari situ muncul pula dugaan penyuapan terhadap polisi untuk mendapat informasi.

Surat kabar Evening Standard melaporkan sejumlah wartawan dan pejabat senior NOTW mengeluarkan lebih dari 100.000 poundsterling (Rp 1,3 miliar) untuk membayar polisi. Kasus ini tengah dalam penyelidikan.


(ita/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini