Presiden Afghanistan Terus Menangis Saat Penguburan Adiknya

Presiden Afghanistan Terus Menangis Saat Penguburan Adiknya

- detikNews
Rabu, 13 Jul 2011 15:28 WIB
Presiden Afghanistan Terus Menangis Saat Penguburan Adiknya
Kabul - Ahmed Wali Karzai, adik Presiden Afghanistan Hamid Karzai hari ini dimakamkan di Kandahar, Afghanistan selatan. Presiden Karzai tak bisa menahan air matanya selama prosesi pemakaman saudara tirinya itu.

Menurut kantor berita AFP, Rabu (13/7/2011), Karzai terus menangis selama prosesi penguburan Wali Karzai yang tewas dibunuh pengawalnya kemarin. Karzai pun sempat mencium kening adiknya itu saat jenazah akan diturunkan ke liang lahat.

Melihat Karzai menangis, kerabat dan pejabat-pejabat Afghan mencoba menenangkan pemimpin Afghanistan itu. Para pelayat juga banyak yang tak kuasa menahan tangis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai penguburan, Presiden Karzai masih terus mengucurkan air mata saat meninggalkan areal pemakaman. Dia kemudian naik ke mobilnya dengan dibantu oleh mantan Gubernur Kandahar Gul Agha Sherzai dan pejabat-pejabat lainnya.

Hingga kini belum jelas motif pembunuhan Wali Karzai. Kelompok Taliban mengklaim telah merekrut pelaku penembakan tersebut. Namun klaim tersebut diragukan setelah kepala kepolisian Kandahar Abdul Razeq mengidentifikasi pelaku sebagai Sardar Mohammed, komandan dari 200 pengawal yang selama 7 tahun ini menjaga keamanan keluarga Wali Karzai.

"Penyelidikan tengah berlangsung untuk memastikan apakah ini kebencian pribadi atau ada tangan-tangan asing di baliknya," kata Gubernur Kandahar Tooryalai Wesa kepada wartawan. Menurut Wesa, pelaku penembakan merupakan orang kepercayaan Wali Karzai.

"Dia orang yang sangat dipercaya. Dia (Wali Karzai) telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Tak ada yang mengira dia akan melakukan hal seperti itu," tandasnya.

Wali Karzai merupakan figur yang sangat berpengaruh di Afghanistan selatan. Kepala dewan provinsi Kandahar itu juga dikenal sebagai tokoh kontroversial karena dugaan keterlibatannya dalam perdagangan narkotika di Afghanistan.


(ita/nrl)


Berita Terkait