Gubernur Tokyo Bersikeras Jepang Tetap Butuh Nuklir

Gubernur Tokyo Bersikeras Jepang Tetap Butuh Nuklir

- detikNews
Senin, 11 Jul 2011 14:45 WIB
Gubernur Tokyo Bersikeras Jepang Tetap Butuh Nuklir
Tokyo - Krisis nuklir yang terjadi di PLTN Fukushima, Jepang telah memicu berbagai aksi global untuk menentang penggunaan energi nuklir. Namun Gubernur Tokyo Shintaro Ishihara bersikeras bahwa Jepang tetap membutuhkan energi nuklir.

"Selama itu dikelola dengan benar, nuklir bisa menghasilkan energi dengan biaya yang sangat rendah," kata politikus berumur 78 tahun itu seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (11/7/2011).

"Saya perkirakan beberapa reaksi histeris terhadap pembangkit tenaga nuklir akan muncul sekitar waktu pemilihan," tutur gubernur yang dikenal akan sikap nasionalisnya dan kerap melontarkan pernyataan provokatif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenapa Jepang tak bisa melakukan hal yang sama dengan Prancis?" tutur politikus konservatif Jepang itu. Prancis memproduksi lebih dari tiga perempat energi listriknya dengan tenaga atom.

Sejak krisis nuklir di PLTN Fukushima yang terjadi akibat gempa dan tsunami dahsyat pada 11 Maret lalu, lebih dari separuh PLTN yang dimiliki Jepang berhenti beroperasi. Dari keseluruhan 54 PLTN yang dimiliki Jepang, hanya 19 yang tetap beroperasi saat ini.

Bahkan menurut Ishihara, Jepang seharusnya memiliki senjata nuklir sebagai penangkal atas lokasi Jepang yang berbahaya karena berada di dekat Korea Utara (Korut), China dan Rusia.

"Apa ada negara-negara lain yang seperti Jepang di dunia ini," tanya Ishihara.

"Tak ada negara yang berada di situasi yang berbahaya seperti Jepang, yang dikelilingi oleh tiga negara dengan sentimen bermusuhan: Rusia, China dan Korut, persis di seberang perbatasan," cetusnya.

Namun ditekankannya: "Kita tak akan pernah bisa menggunakannya (senjata nuklir), tak akan pernah."

Jepang merupakan satu-satunya negara di dunia yang pernah mengalami serangan bom atom, yakni ketika pesawat tempur AS menjatuhkan bom nuklir ke Kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.

(ita/nrl)


Berita Terkait