Pelayan Dikabarkan Menjual Diri ke Tamu-tamu Hotel

Skandal Seks Bos IMF

Pelayan Dikabarkan Menjual Diri ke Tamu-tamu Hotel

- detikNews
Senin, 04 Jul 2011 09:42 WIB
Pelayan Dikabarkan Menjual Diri ke Tamu-tamu Hotel
New York - Kasus dugaan percobaan pemerkosaan yang dilakukan mantan direktur IMF Dominique Strauss-Kahn terhadap seorang pelayan hotel mewah di New York, Amerika Serikat terus berlanjut. Namun kini, semua perhatian tertuju kepada pelayan hotel alias si pelapor. Kredibilitas wanita berumur 32 tahun asal Guinea itu semakin dipertanyakan.

Harian New York Post seperti dilansir Telegraph, Senin (4/7/2011) memberitakan, sejumlah tamu pria di Hotel Sofitel tempat wanita itu bekerja pernah berhubungan seks dengan wanita tersebut dengan memberikan imbalan uang.

Media tersebut mengutip sumber yang dekat dengan tim pembela DSK. Apalagi pekan lalu, para penyidik juga menerima terjemahan lengkap pembicaraan telepon yang terjadi 28 jam setelah insiden percobaan pemerkosaan tersebut antara si pelapor dengan seorang pria yang diakui sebagai kekasihnya. Pria tersebut sedang mendekam di penjara di Arizona, AS atas dugaan kepemilikan 180 kg ganja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Percakapan dalam bahasa etnis Afrika tersebut direkam, yang merupakan prosedur rutin di AS.

"Dia mengucapkan kata-kata yang artinya 'Jangan khawatir, orang ini punya banyak uang. Saya tahu apa yang saya lakukan," kata sumber kepolisian New York.

Temuan tersebut menyulitkan para jaksa untuk meneruskan kasus ini. Apalagi para penuntut menemukan adanya kiriman dana yang totalnya mencapai US$ 100 ribu ke rekening si pelapor. Padahal wanita itu berulang kali mengatakan bahwa pekerjaannya di Hotel Sofitel merupakan satu-satunya sumber pendapatan baginya.

Jaksa juga menemukan sejumlah nomor telepon genggam yang terdaftar atas nama wanita tersebut, yang tagihannya mencapai ratusan dolar tiap bulan. Padahal wanita itu mengaku hanya memiliki satu nomor HP.

Sementara itu, pada Jumat, 1 Juli waktu setempat, pengadilan membebaskan DSK dari tahanan rumah. Namun politikus terkemuka Prancis itu tetap diharuskan tinggal di wilayah AS
(ita/vit)


Berita Terkait