Hillary Clinton Tuding Khadafi Gunakan Pemerkosaan Sebagai Alat Perang

Hillary Clinton Tuding Khadafi Gunakan Pemerkosaan Sebagai Alat Perang

- detikNews
Jumat, 17 Jun 2011 15:24 WIB
Hillary Clinton Tuding Khadafi Gunakan Pemerkosaan Sebagai Alat Perang
Washington - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Hillary Clinton angkat bicara mengenai pemerkosaan massal yang kabarnya dilakukan pasukan Libya. Mantan ibu negara AS itu menuding pasukan Libya menggunakan pemerkosaan dan kekerasan terhadap wanita sebagai "alat perang."

Dikatakan Hillary, pemerintah AS sangat prihatin akan laporan-laporan pemerkosaan berskala besar di Libya, yang kabarnya sengaja dilakukan oleh pasukan Libya atas perintah Muammar Khadafi.

Hillary juga menyinggung laporan-laporan mengenai pemerintah di Timur Tengah dan Afrika Utara menggunakan kekerasan seksual untuk menghukum para demonstran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerkosaan, intimidasi fisik, pelecehan seksual dan bahkan apa yang dinamakan 'tes keperawanan' telah terjadi di negara-negara wilayah tersebut," kata Hillary dalam statemennya seperti dilansir AFP, Jumat (17/6/2011).

"Pasukan keamanan Khadafi dan kelompok-kelompok lain di wilayah itu sedang mencoba memecah rakyat dengan menggunakan kekerasan terhadap wanita dan pemerkosaan sebagai alat perang, dan pemerintah AS mengutuk sekeras-sekerasnya hal tersebut," tegas Hillary.

Penuntut Mahkamah Internasional alias International Criminal Court (ICC) Luis Moreno-Ocampo pekan lalu menyatakan ada bukti bahwa otoritas Libya memborong obat Viagra dan membagi-bagikannya ke pasukan Libya sebagai bagian dari kebijakan resmi pemerkosaan.

"Belum lama ini, ICC telah menekankan adanya bukti kuat bahwa pemerkosaan di Libya tersebar luas dan dilakukan secara sistematis," ujar Hillary.

"Penyelidikan mendalam atas masalah ini diperlukan untuk membawa para pelaku ke pengadilan," tandas istri mantan Presiden AS Bill Clinton itu.

Hillary pun menyinggung soal Iman al-Obeidi, wanita Libya yang mengklaim telah diperkosa oleh sejumlah tentara yang setia pada Khadafi. Menurut Hillary, sejak pengakuan al-Obeidi pada 26 Maret tersebut, wanita-wanita lain memberanikan diri untuk menceritakan kebrutalan yang mereka alami.

(ita/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini